Feed on
Posts
comments

Sewaktu Sigmund Freud menemukan, bahwa libido seksual sangat mempengaruhi jati diri manusia, komunitas dokter di Austria langsung mengutuk pemikiran itu. Mereka menganggap pemikiran mengenai libido adalah terlalu aneh. Yang ditemukan Freud memang sesuatu yang dianggap tabu pada saat itu. Misalnya, mengenai ‘oedipus complex’. Freud menemukan pada salah satu pasiennya suatu kasus insest. Kongkritnya ada anak laki-laki yang memiliki dorongan untuk mengawini ibunya sendiri. Kebalikannya, yaitu ‘electra complex’ juga demikian. Yaitu kejadian dimana ada anak perempuan yang ingin mengawini bapaknya sendiri. The point is….human being is a complicated creature :=).
Satu hal yang perlu kita sadari, bahwa dalam diri setiap insan terdapat bisikan jahat dan bisikan baik pada hati nurani masing-masing. Tinggal ingin mengikuti yang mana. Bagaimana dorongan-dorongan itu bisa kita kontrol, untuk menjadi manusia yang normal, itulah yang harus kita lakukan. Kelainan jiwa terjadi ketika bisikan jahat mendominasi hati kita. Disitulah muncul iri, dengki, sombong, egoisme, dan kebencian. Manusia menjadi normal ketika ia mampu menjadikan bisikan baik mendominasi hatinya. Disitulah seorang insan mengalami tarik menarik, antara ‘iblis dan malaikat’ didalam dirinya……

Kunjungan ke Boscha

Pada tanggal 15 Desember 2007, komunitas netsains mengadakan gathering lagi di Observatorium Boscha. Acara ini sebenarnya berbarengan dengan gawenya Ristek, dalam melaunching teleskop matahari di Boscha. Saya sendiri sangat happy, karena bisa melihat dengan mata kepala sendiri Boscha itu seperti apa. Selama ini cuma tahu Boscha seperti apa dari film Sherina. Ada beberapa rekan, yang sebelumnya hanya kukenal di dunia maya, akhirnya bisa copy darat juga. Mereka diantaranya adalah pengurus iBiotech, yaitu: Audrey, Doti, dan Kalman. Menristek sendiri mengusulkan supaya Observatorium Boscha dijadikan maskot netsains. Kamipun berbincang-bincang mengenai banyak hal, Pak KK dengan gaya humornya yang selalu segar, dan Merry dengan celetukan-celetukannya :=). ITB justru diwacanakan untuk dijadikan server netsains. Aku sih ok-ok saja. Ada banyak pengalaman menarik disana. Lengkapnya, klik saja di http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_345 .  Lucu…kalo mengenai maskot netsains, nanti aku usulkan ke forum supaya Kamar Jenazah RSCM dijadikan maskot tambahan *wakakakak*.

OK…pengembaraan saya selama bertahun-tahun untuk menggoogling dunia maya, dalam rangka mencari rekan-rekin yang seide dengan saya akhirnya menemukan hasil. Akhirnya saya bertemu dengan komunitas Netsains (http://www.netsains.com)  yang dikomandani oleh Merry Magdalena. Klik saja langsung ke hyperlink diatas, untuk mengetahui netsains lebih lanjut. Aku banyak sekali bertukar pikiran dengan para  netsainers yang ’super’ itu, seperti dengan Merry dan Hoho. Yang aku ndak sangka-sangka, akhirnya aku bisa berkorespondensi secara langsung dengan Pak Kusmayanto Kadiman, Menristek kita periode 2004 - 2009 ini. Asyik juga bergabung dengan komunitas ini….Banyak dapat teman baru. Jika rekan-rekin ingin join juga…kunjungi saja web site netsains, sekalian kontribusi artikel. Perkembangan terakhir, kami sedang berusaha keras untuk melegalkan netsains menjadi yayasan. Semoga awal tahun 2008 sudah bisa kita deklarasi secara formal……

Karena berada dalam kesukaran, seorang pedagang yang sangat kaya dari Tabriz (Iran) pergi ke Konya (Turki) mencari orang yang teramat bijaksana. Setelah mencoba mendapat nasehat dari para pemuka agama, hakim, dan lain-lain, ia mendengar tentang Jalaludin Rumi; ia pun dibawa menghadap Sang Bijaksana itu.
Pedagang itu membawa lima puluh keping uang emas sebagai persembahan. Ketika dilihatnya Sang Maulana di ruang tamu, pedagan itu menjadi sangat terharu. Jalaludin Rumi pun berkata kepadanya,
"Lima puluh keping uang emasmu diterima. Tetapi kau telah kehilangan dua ratus, itulah alasan kedatanganmu kemari. Tuhan telah menghukummu, dan menunjukkan sesuatu kepadamu. Sekarang segalanya akan beres." Pedagang itu terheran-heran terhadap yang diketahui Sang Maulana. Rumi melanjutkan.
"Kau mendapat banyak kesulitan karena pada suatu hari nun jauh di negeri Barat sana, kau melihat seorang darwis Kristen terbaring di jalan. Dan kau meludahinya. Temui dia dan minta maaf padanya, dan sampaikan salam kami kepadanya."
Ketika pedagang itu berdiri ketakutan karena ternyata segala rahasianya telah diketahui, Sang Maulana itupun berkata, "Perlukah kami tunjukkan orang itu padamu?" Rumi menyentuh dinding ruangan itu, dan pedagang itupun menyaksikan gambar orang suci itu di sebuah pasar di Eropa. Iapun terhuyung-huyung pergi meninggalkan Sang Bijaksana, tercengang-cengang.
Segera saja ia mengadakan perjalanan menemui ulama Kristen itu, dan ditemuinya orang suci tersebut telungkup di tanah. Ketika didekatinya, darwis Kristen itupun berkata, "Guru kami Jalal telah menghubungi saya."
Pedagang itu melihat ke arah yang ditunjukkan darwis tersebut, dan menyaksikan-dalam gambar-Jalaludin sedang membaca kata-kata semacam ini, "Tak peduli kerikil atau permata, semua akan mendapat tempat di bukit-Nya, ada tempat bagi semuanya…" Pedagang itupun pulang kembali, menyampaikan salam darwis Kristen itu kepada Jalal, dan sejak itu tinggal dalam masyarakat darwis di Konya.Mevlanarumi

Gambar Jallaludin Rumi. (Sumber:http://img.photobucket.com/albums/v245/mevlanasufi/)

Dari Kisah-kisah Sufi Idries Shah.

 

Contemplation

If the image of our Beloved is in the
heathen temple.

Then it is flagrant error to walk round
the Ka’ba.

If in the Ka’ba His fragrance is not
present.

Then it is but a synagogue.

And if in the synagogue we sense the
fragrance of union with Him.

Then that synagogue is our Ka’ba.

What is to be done, Muslims? I, myself,
do not know.

I am neither Christian nor Jew, neither
Magian nor Muslim.

I am not from east or west, not from
land or sea.

I am not from the quarries of nature
not from the spheres of heaven.

I am not of earth, not of water, not of
air, not of fire.

I am not from India, not from China,
not from Bulgar, not from Saqsin.

I am not from the kingdom of the two
Iraqs. I am not from the land of Khurasan.

My place is placeless, my trace is
traceless.

No body no soul, I am from the soul of
souls.

 

From: Matsnawi
Jallaludin Rumi

Stem Cell di Indonesia?

        “ Ikuti sabda Tuhan atau pemikiran manusia”, demikian tandas seorang pendeta sambil mengangkat Alkitab dalam suatu diskusi ilmiah. Diskusi ilmiah ini diadakan di Inggris pada medio tahun 1850an untuk membahas teori Darwin. Sampai detik ini, karena lobi kaum neo-konservatif, teori Darwin dilarang untuk diajarkan di sebagian sekolah dan universitas di Amerika Serikat. Sebelum  itu, pada tahun 1633, Galileo Galilei harus menghadap pengadilan inkuisisi yang diadakan oleh pihak Gereja untuk mempertanggung jawabkan dukungannya terhadap heliosentrismenya Kopernikus. Galilei, senanda dengan Kopernikus, berpendapat bahwa matahari adalah pusat alam semesta. Sementara itu pihak Gereja, dengan doktrin geosentrisnya, berpendapat bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Akhirnya Galileo diputuskan bersalah, dan dikenakan tahanan rumah. Sementara itu, di awal abad ke 20, di Uni Soviet, ahli biologi dan genetika TD Lysenko, berhasil meyakinkan pemerintahan Stalin, bahwa teori genetika Mendel itu adalah anti komunis dan anti marxis dan Lysenko menawarkan penggantinya yaitu teorinya sendiri yang pro komunis dan memungkinkan untuk mendapatkan langkah maju di bidang pertanian. Di kemudian hari akan timbul pendapat umum diantara para ilmuwan yang menyatakan bahwa pendapat Lysenko adalah tidak benar. Namun Stalin mendukung Lysenko dan pengikutnya, sehingga ilmuwan-ilmuwan lain yang tidak sepaham dengannya akan disingkirkan. Ahli genetika terkemuka, N.I Vavilov, yang berani mengkritik teori Lysenko, meninggal di kamp kerja paksa di Siberia sebagai “martir” bagi ilmu pengetahuan yang otonom.
        Di sisi lain perkembangan ilmu pengetahuan membawa umat manusia pada titik ekstrim. Jepang mengembangkan senjata biologis dengan menggunakan manusia sebagai percobaannya. Sementara itu Uni Soviet mengembangkan senjata biologisnya dengan mengakali perjanjian internasional mengenai bioterorisme dan senjata biologis. Di tahun 1945, proyek Manhattan pimpinan Robert Oppenheimer, pakar fisika Nuklir, telah berhasil dengan eksperimen bom atomnya. Beberapa bulan setelah keberhasilan tersebut, bom atom diledakkan di Hirosima dan Nagasaki di Jepang, dengan korban tewas di kedua kota tersebut sekitar 300.000 penduduk.
Kami tidak mau menyulut polemik lebih jauh mengenai apakah sel tunas ini sebaiknya diperbolehkan atau tidak untuk dikembangkan. Masing masing pendapat memiliki dasar yang kuat untuk pembenarannya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus ini dengan pertimbangan seperti yang akan kami tulis dibawah.
        Masyarakat modern telah percaya bahwa hanya suatu sistem yang demokratis saja yang mampu menjamin aspirasi dari warga negaranya dapat tersalurkan. Demokrasi memiliki prasarat antara lain suatu masyarakat yang terbuka, penegakan hukum, transparansi, pertanggung jawaban ke publik, dan tentu saja partisipasi publik. Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan di suatu negara, setiap proses pengguliran regulasi, pembentukan institusi, dan pekerjaan institusinya, tetap harus melalui proses demokratis. Ilmu pengetahuan bukanlah bidang yang tertutup seperti bidang militer dan intelejen, sehingga proses demokrasi yang normal justru akan menguntungkan komunitas ilmu pengetahuan.
Dalam konteks sel tunas ini, setiap kelompok, baik yang pro atau yang kontra, harus tetap taat terhadap hukum nasional yang telah terinstitusikan dalam proses demokrasi. Taat dengan hukum nasional berarti tidak menggunakan cara-cara teror, intimidasi, dan anarki dalam rangka memperjuangkan pendapatnya. Pendapat dari setiap kelompok bisa diuji dalam debat, seminar, sarasehan, dan wacana dengan publik sebagai jurinya. Setiap upaya kriminal untuk menggolkan pendapat satu kelompok harus ditolak atas nama hukum. Apa yang terjadi di Amerika Serikat patut disayangkan, sebab kelompok neo-konservatif berencana memberangus kelompok liberal yang mendukung setiap upaya pengembangan sel tunas ke penjara. Suatu hal yang aneh dalam konteks Amerika, sebab selama ini Amerika selalu mengklaim dirinya sebagai pionir demokratisasi dunia. Sementara apa yang terjadi di Korea Selatan patut dipuji, sebab kelompok konservatif berhasil menggolkan pemikirannya, dengan dilarangnya klon reproduksi, sementara kelompok liberal juga berhasil diperbolehkan dalam upayanya melakukan riset klon terapi. Jadi win-win solution berhasil dicapai di Korea Selatan.
Berkaca dari kasus Amerika Serikat dan Korea Selatan, bagaimanapun dalam konteks Indonesia ini kita harus bergegas menanggapi setiap perkembangan yang terjadi dalam konteks sel tunas. Beruntung kita sudah memiliki komisi bioetika yang membahas mengenai sel tunas. Diharapkan supaya kedepannya legislasi sel tunas bisa dirilis.
        Dalam konteks pengembangan sel tunas embrio manusia sendiri, jelas sekali masih memerlukan waktu bertahun-tahun sampai teknologi ini dapat diaplikasikan pada manusia. Bahkan sel tunas sendiri belum menjalani uji klinis pada manusia, yang memerlukan waktu panjang juga dalam mengevaluasi resiko dan keberhasilannya. Pengembangan sel tunas sendiri memerlukan SDM yang handal dan infrastruktur yang memadai.  Indonesia mungkin memiliki SDMnya, namun untuk infrastruktur itu adalah tanda tanya. Tim Riset sel tunas di Korea Selatan dalam setahun mendapat dana US$ 2 juta dari pemerintahnya. Sementara di Indonesia, satu tim penelitian mendapatkan dalam setahun Rp 100 juta hibah pun belum tentu. Penghargaan terhadap ilmu-ilmu dasar di Indonesia masih sangat rendah. Pemerintah masih memiliki prioritas lain untuk diperbaiki seperti sanitasi, transportasi massa, ekonomi makro, dll. Membayangkan sel tunas akan menjadi subyek penelitian di Indonesia seperti day dreaming saja.
        Namun bukannya tidak mungkin day dreaming itu menjadi kenyataan, bila para ilmuwan dapat meyakinkan publik dan pemerintah, bahwa penelitian sel tunas ada manfaatnya. Bila penelitian negara-negara maju pada akhirnya membuktikan bahwa ada manfaat terapetik dari penelitian sel tunas, Indonesia tidak mungkin menolak sama sekali penelitian sel tunas. Namun tetap harus ada mekanisme kontrol dan legislasi yang baik, dalam perspektif bioetika. Kita tentu tidak ingin sel tunas dimanfaatkan untuk kepentingan bioterorisme, seperti kasus Jepang dan Uni Soviet di masa lalu, dimana mereka menggunakan mikroorganisme untuk kepentingan terorisme. Setiap upaya penelitian harus diarahkan semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan saja. Namun jika penelitian sel tunas ini tidak menjanjikan apa-apa, tentu saja diskusi mengenai sel tunas dapat segera ditutup.

Google Search Engine


Google

We live in complete nothingness.
Love is nothing.

Faith is nothing.

Direction is nothing.
Past, present, and future are nothing.
All we see, hear, feel, and touch are nothing as well.
Justice is a highway into the bliss of nothingness.

Nihilism is the direction of all movement.

We work, love, and hate for nothing.

The basis of our modern civilisation is only an illusion
An illusion of heaven, but in fact is a complete nihilsm.
Wealth, Power, and sex are considered everything.

But in fact, everything is a complete nothingness.

Nothingness is enlightment.

Nothingness is contemplation.

Nothingness is state of mind.

Some says that salvation is a necessity.

Nothingness is no salvation.

Beacuse salvation is only an illusion.

Illusion by a creative imagination of geniuses.

Terrorism is a cruel way to resist nihilsm of western civilisation.

But terrorism is nothingness and nihilsm as well.

Philosophy is nothing.

Teology is nothing.

Science is nothing.

So what is the point of livin’?
Happiness? Wealth? indoctrination or What?

The point is nothing.

Because livin’ is nothing.

Live is only a temporary resting place.

A Place for rest a while.

So livin’ is not worth thinking at all.

A wise sage once said: "We still have troble for thinking this live, why should we think for the death?"
Another sage once said: "Life is an illusion"
After that, it’s none of our busisness.
Nature will take care of all our hustle
Harmony with the nature is the essence of all

Sebenarnya ilmu pengetahuan sedang berada dalam persimpangan jalan.
Secara kuantitatif, ia menjanjikan segudang hal. Mulai dari biologi molekuler
dengan rekayasa genetikanya, kedokteran dengan terapi gennya, Fisika material
dengan nanotechnologynya, Teknologi informasi dengan artificial
intelligencenya. Paradigma positivisme sosiologis ala August Comte pada abad-19
menyatakan, bahwa dengan kemajuan sains, maka akan dicapai pula kebahagiaan
umat manusia. Bahkan Sigmund Freud, bapak ilmu psikologi, lebih jauh lagi
menyatakan bahwa bila perkembangan sains sudah sangat maju, maka agama sudah
tidak diperlukan lagi. Namun,
pertanyaannya, apakah dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, manusia juga
semakin bijak dalam mejalankan hidupnya?

Pertanyaan terakhir ini memang sangat sukar dijawab, dan artikel ini
tidak berpretensi untuk menjawabnya juga. Kami hanya mengajak untuk merenung
dan berkontemplasi, bukan untuk menjawab pertanyaan. Namun perhatikan juga
perkembangan sejarah umat manusia. Dalam ilmu kimia, perkembangan kajian
sintesa kimia organik/organometalik mencapai puncaknya sewaktu pihak militer
Jerman jama perang dunia I berhasil mensintesis senyawa Lewisite, yang
digunakan sebagai senjata kimia untuk melawan pihak Inggris. Setelah itu
bermunculan berbagai varian senjata kimia, seperti Sarin dan Mustard. Rezim
Baath Saddam Hussein menggunakan gas mustard untuk membantai suku kurdi di
utara Irak pada tahun 80-an. Saya pernah melihat video montasenya, dan sangat
mengerikan keadaan mayat suku kurdi korban senjata kimia yang saya lihat.
Mereka seperti hangus terbakar dan kulitnya melepuh semua, dalam beberapa kasus
sampai dagingnya kelihatan. Sementara Ilmu Biologi mencapai puncaknya dengan
pengembangan senjata biologis oleh Jepang pada tahun 30 an sampai 1945. Jepang
menggunakan bom yang disisipkan patogen antrax (bomblet), untuk membantai
penduduk sipil di Mancuria, China
utara.
Sementara tahanan perang China
dan
sekutu, disiksa dengan disuntikkan dengan patogen berbahaya langsung secara in
vivo. Untuk ilmu fisika, tidak usah ditanya lagi, mencapai puncaknya dengan
pengembangan senjata nuklir, yang meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki

.

Mungkin belum cukup dengan semua itu, sebenarnya di benak banyak orang,
pasti mengira bahwa profesi ilmuwan, dokter, atau insinyur adalah profesi yang
terhormat dan pasti orang-orang yang berintegritas saja yang bisa demikian.
Saudara-saudara, saya tegaskan disini, bahwa TIDAK ADA KORELASI SAMA SEKALI
antara PROFESI seseorang dengan INTEGRITAS MORALnya. Saya langsung berikan contoh,
Shiro Ishi, Ketua Unit 731 yang mengembangkan senjata biologis Jepang adalah
seorang dokter. Sementara, Josef Mengele, yang menjadikan para tawanan Yahudi
sebagai kelinci percobaannya, juga adalah seorang dokter. Sementara, yang
mengembangkan senjata nuklir, Robert Oppenheimer, adalah seorang Fisikawan.
Juga orang-orang yang menemukan gas Lewisite, Sarin, Mustard, dan lainnya juga
adalah Kimiawan. Orang-orang diatas dengan sadar penuh, rela menggunakan
ilmunya untuk kepentingan politik. Bisa jadi karena mereka tidak punya pilihan
lain, karena negara mereka memaksa mereka untuk menjadi demikian. Hanya saja
pilihan yang mereka ambil menyebabkan banyak nyawa melayang. Tidak ada jaminan
bahwa bila seorang dokter mengucapkan sumpah Hipokrates atau sumpah profesi
lain, yang mewajibkan dokter untuk menolong nyawa pasiennya, maka dokter itu
tidak akan terlibat pada program pengembangan senjata pemusnah masal. Sumpah
itu hanya di mulut saja, sementara hati nurani bisa bicara lain. Seorang Shiro
Ishi dan Joseph Mengele di satu sisi, sementara seorang Albert Schweitzer di
sisi lain, mereka semua sama-sama mengucapkan sumpah hipokrates dan sumpah
profesinya. Namun pihak yang satu menjadi pengembang senjata pemusnah
masal/algojo tahanan politik, sementara yang satu menjadi aktivis kemanusiaan
yang mendapat nobel perdamaian. Politik itu buta (Bukan hanya cinta saja yang
buta). Dia tidak peduli yang telibat itu dokter atau bukan, insinyur atau
bukan, ilmuwan atau bukan. Yang penting begitu seorang teknokrat memasuki dunia
ini, maka akan ada konsekuensi yang sangat serius dari sisi kemanusiaan dan
moralitas. Bisa jadi contoh diatas memberikan contoh secara langsung, bahwa
bukan profesinya yang membuat seorang Albert Schweitzer itu mulia, namun karena
idealismenya yang tinggi untuk menolong sesamanya itu yang membuat seorang Pak
Albert itu mulia. Kemuliaan datang tanpa memandang apa profesi orang. Ia datang
dimana keadilan ditegakkan, Kasus demikian juga terjadi pada Nelson Mandela,
Mahatma Gandhi, dan Martin Luther King Jr yang notabene bukan dokter, ilmuwan,
atau insinyur. Sukar untuk menilai orang dari profesinya. Di satu sisi, banyak
orang yang ingin jadi dokter, ilmuwan, atau insinyur, namun di titik itu tidak
ada yang bercita-cita untuk menjadi MANAJERnya dokter, ilmuwan, atau insyinyur. Bicara manajemen, pasti
berbicara mengenai good corporate
governance
(pasti orang ekonomi sudah tahu semua). Sudah jamak sekali
terdengar dokter yang melakukan malpraktek, ilmuwan yang mikirin dirinya
sendiri dan mengisolasi diri, atau insinyur yang bikin gedung/rumah/proyek lalu
ambrol berantakan. Mungkin mereka-mereka ini mesti belajar manajemen sama Pak
Renald Khasali barangkali, supaya menjadi lebih profesional dalam menjalani
profesinya. Disini menarik, saya mengajak bila ada orang ekonomi yang membaca
artikel ini, untuk langsung memberi masukan pada artikel ngolor ngidul ini,
biar semakin jelas arahnya.

Agak sukar juga melihat dilema ini. Sains tidak ubahnya seperti fenomena
“tanaman makan pagar’ atau pisau bermata dua. Saya tak ada habis-habisnya
merenung, semakin tinggi perkembangan sains, maka mesin perang pemusnah yang
diciptakan manusia akan semakin canggih secara kualitas dan kuantitas. Ini
konsekuensi logis dari paradigma positivisme. Sering beberapa pakar
menggulirkan, bahwa sekarang positivisme sudah mati. Sekarang katanya kita
bicara post-positivisme. Faktanya di lapangan, masih banyak yang percaya bahwa
semakin canggih sains, manusia semakin bahagia. Benar-benar sulit.

Walaupun saya seorang kimiawan, saya dengan jujur menyatakan bahwa saya
tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan akan membuat saya bahagia begitu saja
langsung seperti datang dari langit. Sains itu hanya suatu instrumen belaka.

Ada hal-hal
lain yang jauh lebih penting daripada sekedar sains dan teknologi an sich, seperti cinta kasih, kesetia
kawanan, keadilan sosial, dan kejujuran. Semua itu menjadi suatu jaring-jaring
sosial yang menyangga peradaban kita. Masalah percaya tidak percaya. Tapi
sebenarnya pertanyaan diatas belum terjawab….

Anthropobiology

Baru-baru
ini, Lembaga Eijkmann merilis penemuan yang menyatakan bahwa nenek
moyang bangsa Indonesia berasal dari Taiwan, bukan dari Yunan seperti
yang dipercaya oleh banyak orang.  Saya pikir semua ilmuwan yang
jujur percaya, bahwa antara intelejensia dengan ras sebenarnya tidak
ada hubungan yang pasti. Bahwa sesungguhnya intelejensia ditentukan
oleh faktor lingkungan.  Namun benarkah bahwa lingkungan yang paling
menentukan siapa diri kita? Bukankah istilah “lingkungan
mempengaruhi segalanya” adalah istilah yang dipopulerkan Karl Marx,
untuk mendorong revolusi kaum buruhnya? Bahwa menurut dia, pada
akhirnya kesadaran manusia secara total ditentukan oleh relasi
ekonomi politik antara kaum buruh dan kapitalis, tanpa memberi ruang
terhadap kehendak bebas? Dengan demikian dimana kehendak bebas
manusia? Apakah kehendak bebas hanya spekulasi ngelantur para
eksistensialis seperti Sartre, Bergson, dan Iqbal, atau secara
faktual ia “ada”?

Memang
sekarang ini para ilmuwan cenderung ogah mengasosiasikan ras/gen
terhadap manifestasi budaya manusia, itu dengan alasan kuat.  Trauma
perang dunia II, yang dipicu oleh Nazi Jermannya Hitler, yang
bertujuan menghabisi kaum Yahudi, Gipsi, Homoseksual, Slavia, dan
cacat di seluruh eropa membuat banyak orang cenderung menganggap
mengasosiasikan gen/ras dengan budaya sebagai sikap “rasialisme”.
Namun perhatikan ini, mengapa sih orang kulit hitam Amerika adalah
kelompok yang paling produktif dalam hal kesenian, dibanding yang
kulit putih?  Rasanya sudah jamak kita kenal musik R&B, Hip-hop,
dan tentu saja Jazz yang notabene ciptaan kaum Black American.
Apakah itu murni faktor lingkungan? Atau pada kelompok Black Amerikan
memiliki gen tertentu, yang memungkinkan mereka sukses dalam
berkesenian, dimana interaksi optimal antara gen dan lingkungan
memungkinkan mereka mengaktualisasikan dirinya sebagai seniman? Dan
kemudian, mengapa justru kelompok bangsa yang paling berperan dalam
perkembangan kebudayaan barat adalah orang Yahudi, dan bukan yang
Kristen? Bukankah selama ini Bangsa Yahudi adalah kelompok yang
paling konsisten dalam menjaga kemurnian rasnya, dengan melakukan
pernikahan di kalangan mereka sendiri?

Agak
lucu kecenderungan sebagian orang yang  menganggap teorinya Darwin
sebagai ideologi, yang kemudian kita adu dengan Islam.  Pertama-tama,
teori Darwin sebenarnya bukan ideologi, ia hanyalah salah satu teori
dalam sains. Juga harus diletakkan bahwa kebenaran agama dan
kebenaran ilmiah tidak sepantasnya dipertentangkan.  Kebenaran agama
adalah yang tertinggi, karena ia adalah wahyu, namun kebenaran ilmiah
juga harus kita pengang, karena itu cara kita untuk mengaktualisasi
diri kita dalam era globalisasi yang penuh tantangan ini. Namun kaum
Nazi Jerman dan Uni Soviet membajaknya, sehingga ia menjadi ideologi.
Teorinya Darwin sebenarnya sama saja dengan teori-teori lain dalam
sains, hanya saja karena tidak ada cara untuk membuktikan secara
pasti kalau evolusi itu terjadi (kecuali kalau kita punya mesin
waktu), maka ia belum bisa disebut sebagai “hukum”. Sama saja
dengan teori atom, karena tidak ada seorangpun yang bisa melihat
tanpa bantuan instrumen super canggih, maka ia tinggal teori saja,
dan tidak bisa dibilang hukum (Seperti hukum Newton).

Menarik
juga antropobiologi itu.  Sebenarnya bila orang mempelajari Biologi
secara mendalam, akan menemukan bahwa sesungguhnya secara biologis
manusia itu sama.  Penampakan rasial yang berbeda, seperti warna
kulit, bentuk mata, warna rambut, dll, itu hanyalah merupakan
penampakan yang bersifat permukaan.  Bila semua itu kita
“singkirkan”, kita akan melihat bahwa manusia memiliki fungsi
organ yang sama, dan gen yang sebenarnya sama juga.  Namun interaksi
antara gen dan lingkungan itulah yang menentukan menjadi apa si
manusia itu.  Interaksi antara gen dengan lingkungan yang menciptakan
diversitas umat manusia, semenatara gennya sendiri itu sama saja.
Dalam perspektif ini, sebenarnya sikap rasialisme tidak dapat
diperbolehkan, karena sikap itu menghianati konsepsi bahwa kodrat
manusia secara biologis adalah sama.


« Newer Posts - Older Posts »