Seni Hidup bersama di Jerman
August 31, 2008 by johnkecops
Nah….jangan buru-buru menganggap saya berbicara tentang ‚summen leven‘ lho..:-). Itu kan udah saya bahas di posting sebelumnya. Hehehe. Dari awal Juni, sampai akhir September nanti, saya masih tinggal di Richtsberg 88, Marburg. Suatu hal yang tidak kami duga sebelumnya, bahwa saya akan satu wohnung dengan rekan dari Indonesia juga, yang tentu laki-laki. Inilah suatu ‚wohn gemeinsamt. Jadi, saya berbagi dapur, WC, koneksi internet dan ruang tamu dengan rekan yang lain. Juga berbagi dalam menonton TV. Beruntung juga sih, DAAD menempatkan saya dengan rekan sebangsa, jadi jika ada apa-apa bisa dengan mudah dikomunikasikan. Bukan sekedar masalah bahasa, namun juga masalah komunikasi kultural. Dengan rekan sebangsa, dalam banyak hal kita bisa lebih mengkomunikasikan ide dan pemikiran kita dengan mudah, terutama dalam konteks hidup bersama. Kalau dalam dunia akademis dan sains, saya rasa tidak masalah sebangsa atau tidak. Namun kalau dalam ,wohngemeinsam‘, rasanya sebaiknya masih sebangsa. Saya adalah pengagum ide sosialisme, dimana properti adalah milik bersama. Lucu juga, bahwa apa yang saya jadikan ideal, akhirnya saya praktekkan juga di Jerman ini. Menarik.
Ya..kadang ada ketidak setujuan mengenai hal-hal tertentu, kadang ada kebingungan dan salah paham, walau sebangsa, dalam konteks hidup bersama. Disitulah seninya, bagaimana hidup bersama bisa tercapai konsensus dan harmonisasi, demi keberlangsungan kepentingan bersama juga. Namun satu hal yang sangat mengesankankan, yaitu kami bisa menyusun tur bareng bersama. Sudah beberapa kota kami jelajahi bareng, dengan ,wochen ende‘ ticket, yaitu Munchen, Berlin, dan Heidelberg. Banyak hal menarik yang menjadi hikmah bagi kami. Foto-foto kunjugannya bisa dilihat di profil FS saya. Sementara yang digabung dengan bangsa lain, yaitu ke Eisenach, Weimar, dan Koln. Kalau ke Bonn, itu adalah dalam rangka acara ,DAAD Stipendien Treffen‘. Dengan kompaknya, kami menjelajahi kota2 tersebut bersama. Luar biasa memang, dalam kurang dari 4 bulan, banyak tempat di Jerman sudah kami kunjungi.
Ada pendapat, bahwa pada dasarnya manusia itu egois. Dalam kasus saya, itu sangat berbeda. Kalau kami mempraktekkan egoisme di ,wohngemeinsam‘, bisa gawat..:D. Bisa jadi dalam satu wohnug kita ber,perang‘ kata-kata, malah mungkin berantem terus. Kalo begini, kursus bahasa kita ndak bakal jalan, malah memusuhi bangsa sendiri lagi. Sejak awal, kami sudah membuat konsensus, supaya kalau ada masalah apa-apa, dibicarakan diawal. Adalah tidak mungkin, misalnya, karena egoismenya kita, lalu menyurati DAAD supaya dipindahkan ke einzel wohnung (apartemen untuk satu orang). DAAD tidak akan memperdulikan permintaan egois seperti itu. Lagi-lagi, walaupun sangat klasik, dan bagi penganut individualisme ini terkesan sangat klise dan membosankan, tapi kami selalu menyelesaikan masalah kami dengan ,musyawarah untuk mufakat‘. Selalu kami berusaha mencari konsensus, supaya aktifitas sehari-hari bisa berjalan lancar. Misalnya soal membuang sampah, sudah ada salah satu dari kami yang secara sadar membuang sampah wohnung, tanpa disuruh. Lalu mengenai akses internet, memasak dan mencuci piring, sudah ada jadwal piket yang ditaati dengan baik. Jika ingin digeser, itu tergantung konsensus saja.
Akhir September, saya akan pergi ke Hannover untuk memulai riset saya. Rasanya saya akan sangat merindukan kota Marburg dan pengalaman menarik yang kudapat selama ini…..
