Fungsi keluarga di Jerman dan memahami fenomena sosio-budaya di belakangnya
July 13, 2008 by johnkecops
Pada suatu hari, ada seorang Jerman naik taksi di Surabaya. Alhasil, dalam perjalanan, supir taksi tersebut bertanya, ‘Where did you come from’?. Si Jerman menjawab, ‘ I come from Germany’. Namun menariknya, dengan spontan supir taksi tersebut menyeletuk, ‘Germany..FREE SEX!’. Si Jerman hanya mangut-mangut saja sepanjang perjalanan mendengar reaksi spontan yang terkesan melecehkan tersebut.
Mengapa di Jerman, hubungan diluar nikah menjadi sesuatu yang sangat umum? Hal ini tidak bisa dikaji semata-mata dengan kacamata agama an sich. Sudah jelas, jika kita menggunakan kacamata agama, kebiasaan tersebut adalah kebiasaan orang ‘kafir’ yang harus diperangi dan dibenci. Pokoknya harus ada ijab kabul dulu, baru seks. Namun pengkafiran seperti demikian sama sekali tidak melihat fakta sosial yang ada dilapangan. Hanya merujuk pada kitab-kitab kuning dari masa lalu, namun tidak peduli dengan fakta sosial-budaya. Bukan hanya pre marital sex yang harus diperangi, namun kebiasaan minum minuman keras, dan makan babi misalnya. Itu diangga kebiasaan orang kafir juga yang harus diperangi, bahkan kalau perlu sampai berdarah-darah. Pemikiran inilah yang memotivasi Imam Samudra dkk untuk membom Paddy Club di Bali pada tahun 2002 lalu, dimana banyak orang Australia menjadi korban. Alhasil para bomber tersebut sekarang berada di ‘hotel prodeo’.
Jika kacamata agama yang dilihat, sudah jelas tidak ada kompromi. Jerman, tempat saya tinggal sekarang, jika menggunakan kacamata ini, jelas adalah negara tempat orang tak bermoral. Free sex, makan Babi, dan alkoholism adalah sesuatu yang umum di Jerman.
Namun, jika kita menggunakan kacamata sosiologi, fakta sosial akan berbicara lain. Jerman pada masa lampau, sebelum perang dunia I, adalah Jerman yang masih memegang nilai-nilai keluarga. Namun nilai-nilai tersebut dipegang, semata-mata karena fungsi ekonomi. Dalam sebuah keluarga, maka pria berperan sebagai pencari nafkah, dan wanita sebagai ibu rumah tangga. Boleh dibilang sama dengan Indonesia masa sekarang. Saat itu, keluarga berfungsi sebagai unit ekonomi yang mandiri. Pernikahan adalah instrumen untuk memperkuat ekonomi keluarga, misalnya sang wanita dari keluarga yang tak mampu, menikah dengan pria yang mampu. Tentu saja hal ini akan membuat keluarga sang wanita menjadi naik status ekonominya, karena dibantu sang pria. Dalam kondisi ini, negara tidak berperan apapun dalam mendukung keluarga. Saat itu belum ada asuransi kesehatan dan jaminan sosial yang bagus untuk semua orang, sekali lagi sangat mirip dengan kondisi Indonesia sekarang. Alhasil keluarga harus menjadi mandiri secara ekonomi, dan pernikahan adalah cara paling efektif untuk menaikkan status ekonomi juga.
Perkembangan kedepan akhirnya berbicara lain. Jerman menjadi negara maju, dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia. Dengan kemajuan ekonomi tersebut, maka negara akhirnya mampu memberikan jaminan sosial dan kesehatan yang sempurna bagi warganya. Ada tunjangan bagi pengagguran, dan ada asuransi kesehatan yang terjangkau, sehingga tidak ada cerita orang Jerman yang melarat. Mencari kerja, dalam bidang tertentu, relatif lebih mudah. Misalnya, untuk bidang IT diperlukan banyak lowongan sekarang. Namun, dengan kemajuan ekonomi yang dinikmati Jerman sekarang, berkonsekuensi pada semakin berkurangnya peran keluarga. Menikah dianggap bukan sesuatu yang penting, karena fungsi suami sebagai pencari nafkah sudah tidak penting. Kerja dianggap bukan sebagai pencari nafkah (fungsi ekonomi), namun lebih pada fungsi aktualisasi diri (fungsi psikologis). Karena membentuk keluarga sudah dianggap tidak penting, maka hidup bersama diluar ikatan pernikahan menjadi umum (zusammen leben). Keluarga sudah tidak berfungsi sebagai unit ekonomi, karena semua fungsi ekonomi sudah diambil oleh negara (asuransi kesehatan, sosial, sekolah murah/gratis, dll). Menjadi logis jika zusammen leben menjadi umum. Bahkan harus keep in mind, kalau menikah di Jerman, seremoni secara agama sama sekali tidak wajib. Upacara pernikahan dilangsungkan di Rathaus, dan notaris menjadi pihak yang mencatatkan pernikahan, bukan pastur atau pendeta. Jadi lebih bersifat ‘sekuler’, seperti model pernikahan yang diwariskan oleh Revolusi Perancis.
Hal tersebut yang memang sukar diterima oleh kebanyakan orang Indonesia. Peran agama dan keluarga masih sangat kuat. Bahkan UU perkawinan tahun 1974 mewajibkan supaya menikah harus menggunakan pemuka agama sesuai agama masing-masing. Menikah di rathaus seperti model Jerman itu, sudah jelas adalah pemikiran ‘kafir’. Memang jika sudah dari awal berpendapat bahwa Jerman adalah negara yang tidak bermoral, mungkin sudah waktunya yang berpikir demikian untuk mengevaluasi keberadaannya di Jerman (jika dia sekolah di Jerman). Aneh jika kita hanya mau memahami perkembangan sains dan teknologi Jerman, namun menolak, bahkan mengkafirkan budaya dan fakta sosial di Jerman. Ini berarti hanya menerima setengah-setengah terhadap apa yang disebut Jerman itu.
Sebenarnya, jika kita tetap memegang teguh, bahwa menikah itu penting, dan tidak minum minuman alkohol, itupun tidak apa-apa. Orang Jerman pun akan memahami keputusan tersebut, karena bagaimana kita berhubungan dengan pria/wanita, atau apapun yang kita makan/minum itu adalah tanggung jawab kita sendiri. Mereka tidak punya hak untuk memaksakan pendapat mereka tentang hal tersebut, dan juga tidak punya hak untuk memaksa kita makan babi atau minum alkoholik. Namun…ada satu hal yang biasanya dilupakan oleh orang Indonesia..JANGAN pernah mengajari orang Jerman bahwa menikah itu paling penting, dan babi atau alkohol itu haram. Mereka akan memahami keputusan kita mengenai tiga hal tersebut, namun akan sangat tersinggung jika kita mengajari mereka. Jangan disangka kalau kita mengajari mereka, justru mereka akan ‘bertobat’ atau ‘insyaf’ untuk kemudian ‘kembali ke jalan yang lurus’. Tidak akan ada demikian! Adanya mereka menjadi semakin menjadi-jadi, dan justru kita akan dimusuhi mereka. Mereka tidak akan pernah memaksakan nilai-nilai moral mereka ke kita, dan kita pun harus tidak memaksakan nilai-nilai kita ke mereka. Juga satu hal….sebaiknya pemikiran bahwa Jerman adalah sarang orang tidak bermoral harus dibuang jauh-jauh (bagi yang sekolah di jerman). Agak konyol kalau kita menggunakan standar ganda, di depan orang Jerman kita bermanis mulut, namun dibelakang, mereka kita kafirkan. Ini adalah kebohongan dan kemunafikan yang nyata.
Rasanya salah satu hal mengapa hal ini terjadi, karena latar belakang pendidikan juga. Terutama yang berasal dari latar belakang ilmu alam/sains-tek, biasanya cenderung berpikir bipolar (baik/jahat), alias secara hitam putih. Pokoknya kalau tidak benar, ya pasti salah. Hal yang bersifat abu-abu dianggap tidak ada. Alhasil pemikiran seperti ini, akan menyebabkan kita gagal memahami fenomena sosial-budaya. Dalam ilmu sosial-kemanusiaan, tidak ada hitam absolut, atau putih absolut. Dalam putih, bisa ada sedikit hitam, dan dalam hitam, bisa ada sedikit putih juga. Namun memang hal ini tidak bisa terlalu disalahkan juga. Rumpun keilmuan IPA/sains-tek hanya mempelajari ilmu sosial dasar selama satu semester di perguruan tinggi, jelas sangat kurang waktu untuk memahami fenomena sosial budaya. Outputnya adalah absolutisme yang bersifat hitam putih. Jika menggunakan kacamata kuda seperti ini, jelas fenomena free sex dan alkoholism, adalah sesuatu yang kafir atau sesat. Namun biasanya sosiolog atau psikolog tidak akan menggunakan kacamata yang hitam putih seperti ini. Penjelasan mereka pasti selalu berusaha mencari ‘both side of the story’ yang lebih seimbang. Misalnya, untuk menganalisa fenomena seksualitas, psikolog bisa menggunakan psikoanalisa Freudian, yang menggali ‘oedipus complex’ atau ‘electra complex’. Sosiolog bisa menggunakan analisis struktur masyarakat, misalnya bangunan sosio-ekonomi, yang mengakibatkan keluarga menjadi berkurang fungsinya (seperti yang sudah dijelaskan diatas). Jika kacamata sosio-kemanusiaan digunakan, maka hasil analisanya akan jauh lebih ilmiah, daripada menggunakan kacamata hitam/putih. Dalam forum ini, memang adalah hal yang sangat baik jika orang kedokteran, MIPA, dan Teknik mendapat insight yang lebih kuat mengenai bagaimana memahami fenomena sosial-budaya. Saya melihat sampai detik ini, pemikiran mereka masih terlalu hitam/putih dalam hal itu.
* Terima kasih pada Guido Schniders dari DAAD dan Yusri Fajar dari UNIBRAW, yang telah menyumbangkan pemikirannya mengenai Fungsi keluarga di Jerman dan fenomena sosio-kulturalnya.
ehm…
sebenernya ‘free sex’ tidak hanya ada di Jerman melainkan seluruh eropa dan negara western seperti amerika dan australia.
Sebenarnya bisa dibedakan antara ‘free sex’ dengan hidup bersama sebelum menikah.
Salah satu alasan mengapa mereka hidup bersama sebelum menikah karena rate perceraian tergolong tinggi, sehingga mereka ingin mencoba hidup bersama dulu sebelum benar2 commited di mahligai rumah tangga.
Sebenarnya fenomena ini juga bukan hal yang aneh untuk kota besar di Indonesia.
Pada saat pertama kali saya balik setelah 4 tahun absen dari Indonesia, saya schock culture di negara saya sendiri, karena saya melihat beberapa teman saya, yang sudah menikah ternyata menjalin hubungan dengan teman kerjanya atau teman yang bertemu di internet, bahkan pada waktu itu (thn 2000) beberapa lagu tentang selingkuh sudah menjadi trend dan sepertinya hal itu sudah menjadi biasa.
teman saya pernah bilang kepada saya bahwa pernikahan menghalalkan apa yang diperbuat setelah pernikahan… saya terkejut sekali mendengar pendapat tersebut.
Tetapi semua itu selalu kembali ke individu yang menjalankan kehidupan itu sendiri.
IMHO, Di Indonesia, sosial dan community ikut mempengaruhi hidup kita, disini, rasanya kita lebih bisa menjadi diri kita sendiri…