Sebuah refleksi: Sombongkah saya?
May 24, 2008 by johnkecops
Lao Tzu berpendapat, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah jika ia meniru
prinsip hidup dari…pohon bambu!. Pohon bambu itu akarnya kuat, dan
mampu bertahan dari badai. Namun jika badai datang, dia akan bisa
menunduk. Jika badai berlalu, dia akan berdiri tegak lagi. Saya
adalah fans Lao Tzu dari sejak lama. Banyak filosofi dia yang
mengajak manusia untukbersatu dengan alam dan dengan sesamanya.
Ada perbedaan antara kesombongan dengan mengkritisi ketidak adilan. Jika
kita terseret kedalam situasi di tempat kerja, dimana rekan kita yang
tidak pernah melakukan apa-apa dan tidak tahu apa-apa, namun dia
mendapatkan apresiasi dari institusi tempat kerja kita. Sementara
kita sendiri yang bekerja pontang-panting siang dan malam atas nama
institusi, namun mereka tidak memberikan apresiasi sama sekali,
bahkan kepegawaian kita pun juga masih belum beres, wajar sekali kan
jika kita mengeluh? Namun apa pendapat anda, jika kita keluhkan
keadaan ini, jawabannya dari atasan kita sangat singkat, ‘Kamu jangan
sombong dan menyangka kamu lebih baik dari mereka’, lalu atasan kita
membela habis-habisan orang yang kita kritik, bahkan bilang ‘kamu
jangan mengeluh saja!’.. Jika kejadiannya demikian, kita sudah
menjadi korban politik kantor. Ini bukan masalah kesombongan, tapi
masalah kezaliman atau ketidak adilan. Tidak ada gunanya apologi
‘Saya tidak sombong dan tidak merasa lebih baik dari mereka’, karena
semua itu sudah skenario politik dari para petinggi….You are
totally alineated from your office!
Politik kantor adalah suatu hal yang wajar dan terdapat dimana-mana. Entah
kita bekerja di swasta, militer, pemerintahan, NGO, atau apapun, yang
namanya politik kantor pasti eksis. Selalu ada klik-klik di kantor
berdasarkan suku, agama, alamater, dll. Dalam pertarungan antar klik,
selalu saja ada yang menjadi korban. Sering kali kita menolak
mengakui politik kantor itu ada, padahal ia sangat riil. Jadi tentu
saja politik kantor beda dengan kesombongan.
Saya sering kali menemui banyak orang yang lebih cerdas dari saya. Aku
sendiri mengakui bahwa mereka berperan sangat penting dalam membantu
perjalanan karir saya sebagai ilmuwan. Sukar dibayangkan, jika
orang-orang itu tidak ada, jadi apa diri saya. Pertemuan dengan
mereka menyebabkan saya selalu ‘eling’, bahwa selalu ada langit
diatas kita. Namun saya sekali, orang-orang tersebut akhirnya selalu
harus berpisah dengan saya. Perpisahan itu terjadi karena mereka
mengadu nasib di luar negeri. Sedihnya, perpisahan itu terjadi karena
negeri ini tidak mampu mengakomodasi idealisme mereka, alias mereka
korban dari politik kantor juga. Hal yang sama juga akan saya lakukan
dalam waktu dekat, yaitu hijrah ke luar negeri.
Disatu sisi saya bersyukur, bahwa saya akan melanjutkan studi di negeri
dimana politik kantor hanya dilandaskan satu aspek, yaitu apresiasi
bagi yang rajin, dan degradasi bagi yang malas. Di tempat saya
melanjutkan studi nanti, tidak mungkin kita temui orang yang tidak
bisa apa-apa malah mendapatkan apresiasi. Tidak peduli suku, agama,
alamater, afiliasi politik, atau apapun, pokoknya yang berprestasi
pasti mendapatkan apresiasi. Justru semakin tidak mungkin saya
menjadi sombong, karena negeri tempat saya melanjutkan studi ini
merasa bahwa mereka diatas segala-galanya di dunia. Tentu saja, saya
harus bekerja keras supaya bisa memenuhi standar mereka.
Hal lain yang mesti saya syukuri, adalah di negeri ini, saya akan bertemu
dengan teman-teman baru yang penuh idealisme, rajin, dan cerdas.
Besar kemungkinan mereka ini jauh lebih cerdas dari saya, dan bukan
tak mungkin mereka lebih muda dari saya. Saya sangat antusias untuk
bisa bekerja sama dengan pemuda-pemuda yang penuh idealis, dan semoga
saya bisa belajar banyak dari mereka.
Saya akan selalu memegang teguh prinsip sederhana….Jadilah seperti pohon
bambu!. Dengan prinsip ini, kita bisa tetap rendah hati, namun tetap
memiliki prinsip dan idealisme. Namun sedihnya lagi, jika nanti saya
kembali ke Indonesia, saya justru mesti memanfaatkan politik kantor
juga untuk mendapatkan posisi di sini. Jelas ini bukan berdasarkan
prestasi saya, tapi berdasarkan klik. Susah juga……walaupun ini
sekedar harapan, saya berharap jika saya kembali, institusi yang
menerima saya semoga melihat prestasi saya, bukan dari mana klik
saya. Buah simalakama, bagaimanapun saya harus tetap kembali ke
Indonesia, karena saya berkewajiban membantu orang tua saya.
Merekalah alasan paling kuat mengapa saya harus kembali ke negeri
asal. Repotnya saya harus mengoptimasi apa yang saya pelajari di luar
negeri, dengan kondisi di negeri asal. Perlu perjuangan.
Memang pernah ada beberapa orang yang mengingatkan saya, supaya jangan
sombong. Saya sendiri juga agak heran, mengapa mereka ngomong
demikian. Apa karena mereka melihat saya sangat terdidik, dan mereka
banyak melihat ‘plenty educated man become arrognant?’, ndak tahu
juga. Untungnya saya sendiri bukan tipe orang yang suka berceloteh
sana-sini tentang prestasi saya. Walaupun saya ini sudah S2, dan
InsyaAllah sebentar lagi S3, saya tidak pernah mencela-cela atau
meremehkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah. Saya merasa
merendahkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah adalah
buang-buang waktu dan tenaga, yang sebaiknya dimanfaatkan untuk hal
lain yang lebih berguna. Tokh apa gunanya mengagung-agungkan titel
kita? Tokoh besar seperti Nabi Muhammad SAWdan Sokrates saja tidak
memiliki ijazah, dan sangat kebablasan kalo kita yang memiliki ijazah
merasa lebih tinggi dari mereka. Sebuah ironi melihat bahwa banyak
sarjana menjadi Doktor atau profesor karena mempelajari pemikiran
Sokrates dan Nabi, padahal objek kajian mereka sendiri tidak memiliki
ijazah…:-). Lagipula titel tidak bisa dibawa ke liang lahat.
Sebagai muslim, saya percaya bahwa amal baik saya yang akan dihisab
di hari akhir, bukan titel saya. It doesn’t seem right to believe
that title will make us something.
Kisah yang juga menjadi inspirasi saya adalah kisah Firaun dan Nabi Musa
as. Seperti yang sudah kita semua ketahui. Firaun adalah seorang raja
yang sangat sombong. Ucapannya,’Bukankah aku adalah Tuhanmu’,
menunjukkan betapa arogannya dia. Adapun akhirnya air bah
menenggelamkan dia dan armadanya. Sementara Nabi Musa as, yang
awalnya adalah pangeran Mesir, justru mau bergabung dengan Bani
Israil yang merana. Alhasil Bani Israil bisa mencapai tanah terjanji.
Kasus Firaun selalu menjadi peringatan bagi saya mengenai nasib
orang-orang sombog, yang akhirnya mengalami kehancuran.
Jadi…sombongkah saya? It’s up to you to judge me guys…hihihi..:-).
Sayang pohon bambunya udah dibikin pager tuch, hihihi….