Gagalnya negara dalam menjamin penghidupan rakyatnya dan pengambil alihan peran negara oleh keluarga: Posisi Riset dan Pendidikan Indonesia ditengah dominasi peran keluarga
April 27, 2008 by johnkecops
Setelah saya berdiskusi sekian lama dengan pihak DAAD, yang telah melakukan
perbandingan antara kehidupan sosio ekonomi di Jerman dan Indonesia,
ternyata ada beberapa perbedaan fundamental yang perlu digaris bawahi
diantara keduanya. Jelas kita tidak akan bicara tentang skala
kemakmuran antara kedua negara, yang jelas sangat berbeda.
Membandingkan ekonomi, riset, dan pendidikan Indonesia dan Jerman
secara langsung jelas tidak pas. Kita akan membandingkan sisi
perbedaan sosiologis antara kedua negara.
Hal pertama yang akan kita sorot, adalah peran keluarga dan negara. Di
jerman, sampai sekitar 100 tahun yang lalu, keluarga masih memainkan
peranan penting dalam menjamin kehidupan anggota-anggotanya. Keluarga
adalah unit ekonomi yang bertugas menjadi organ otonom, yang memenuhi
segala kebutuhan stake holdernya. Adapun, para pemikir eropa akhirnya
menyadari, bahwa membebankan semua kebutuhan ekonomi pada keluarga
akan menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan riset atau pendidikan
yang mandiri. Jika pengembangan riset atau pendidikan ditumpukan pada
keluarga, itu akan terlalu berat. Tidak mungkin ada riset atau
pendidikan Oleh karena itu, mereka mengusulkan supaya peran negara
diperkuat, sehingga negara menjadi organ yang berfungsi untuk
memenuhi segala kebutuhan dari warga negaranya.
Di Eropa, negara mengatur segala hal mengenai sustainibilitas ekonomi
warganya. Setiap warga negara diusahakan mendapatkan asuransi
kesehatan dan jaminan sosial. Di Jerman, jaminan sosial itu berupa
arbeitlosgeld, yaitu monthly allowance bagi para penganggur. Dengan
dipenuhi segala kebutuhan dasarnya, maka penganggur tidak akan
menjadi kriminal. Birokrasi dibuat efisien dan profesional , sehingga
berperan untuk mengayomi warganya.
Berbeda sekali dengan Indonesia. Sampai detik ini, peran keluarga masih
sangat dominan sebagai unit ekonomi, dan peran negara lemah sekali
dalam menjamin penghidupan warganya. Tidak ada asuransi kesehatan
yang baik bagi semua orang, dan tidak ada jaminan sosial yang benar.
Birokrasi belum efisien. Begitu dominannya peran keluarga, bahkan
sampai keluargapun bisa menentukan profesi dan jodoh dari setiap
anggotanya. Berbeda sekali dengan di Eropa, dimana profesi dan jodoh
itu adalah urusan masing-masing individu.
Selama peran negara lemah dan peran keluarga kuat, maka dapat dibayangkan
dunia riset dan pendidikan Indonesia akan suram. Jelas keluarga
manapun tidak ingin anaknya menjadi guru/dosen/ilmuwan, karena
imbalannya sangat tidak memadai. Jelas mereka ingin setiap anaknya
masuk kedalam profesi-profesi yang secara materi lebih menjanjikan.
Pilihan profesi bagi setiap lulusan sarjana sangat terbatas, karena
yang menjadi faktor utama adalah ‘carrot and stick’ berupa materi.
Liberalisme seperti ini sangat sukar bagi pengembangan riset dan
pendidikan di Indonesia. Jalan keluarnya entah bagaimana, karena
menaikkan gaji guru/dosen/ilmuwan ditengah fluktuasi harga minyak
dunia sekarang ini jelas tidak realistis.
Alhasil memang siapapun yang eksis di dunia riset atau pendidkan, maka
menyambi adalah keharusan. Berkolaborasi dengan keluarga, untuk
mengembangkan entrepreneurship adalah salah satu opsi yang baik untuk
memperkuat perekonomian keluarganya sendiri. Ditengah gagalnya peran
negara dalam menjamin penghidupan warganya, maka entrepreneurship
adalah satu-satunya pilihan bagi kita untuk eksis secara
sosio-ekonomi. Demikian dulu curhat aku.