Sains di persimpangan jalan
October 11, 2007 by johnkecops
Sebenarnya ilmu pengetahuan sedang berada dalam persimpangan jalan.
Secara kuantitatif, ia menjanjikan segudang hal. Mulai dari biologi molekuler
dengan rekayasa genetikanya, kedokteran dengan terapi gennya, Fisika material
dengan nanotechnologynya, Teknologi informasi dengan artificial
intelligencenya. Paradigma positivisme sosiologis ala August Comte pada abad-19
menyatakan, bahwa dengan kemajuan sains, maka akan dicapai pula kebahagiaan
umat manusia. Bahkan Sigmund Freud, bapak ilmu psikologi, lebih jauh lagi
menyatakan bahwa bila perkembangan sains sudah sangat maju, maka agama sudah
tidak diperlukan lagi. Namun,
pertanyaannya, apakah dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, manusia juga
semakin bijak dalam mejalankan hidupnya?
Pertanyaan terakhir ini memang sangat sukar dijawab, dan artikel ini
tidak berpretensi untuk menjawabnya juga. Kami hanya mengajak untuk merenung
dan berkontemplasi, bukan untuk menjawab pertanyaan. Namun perhatikan juga
perkembangan sejarah umat manusia. Dalam ilmu kimia, perkembangan kajian
sintesa kimia organik/organometalik mencapai puncaknya sewaktu pihak militer
Jerman jama perang dunia I berhasil mensintesis senyawa Lewisite, yang
digunakan sebagai senjata kimia untuk melawan pihak Inggris. Setelah itu
bermunculan berbagai varian senjata kimia, seperti Sarin dan Mustard. Rezim
Baath Saddam Hussein menggunakan gas mustard untuk membantai suku kurdi di
utara Irak pada tahun 80-an. Saya pernah melihat video montasenya, dan sangat
mengerikan keadaan mayat suku kurdi korban senjata kimia yang saya lihat.
Mereka seperti hangus terbakar dan kulitnya melepuh semua, dalam beberapa kasus
sampai dagingnya kelihatan. Sementara Ilmu Biologi mencapai puncaknya dengan
pengembangan senjata biologis oleh Jepang pada tahun 30 an sampai 1945. Jepang
menggunakan bom yang disisipkan patogen antrax (bomblet), untuk membantai
penduduk sipil di Mancuria, China utara.
Sementara tahanan perang China dan
sekutu, disiksa dengan disuntikkan dengan patogen berbahaya langsung secara in
vivo. Untuk ilmu fisika, tidak usah ditanya lagi, mencapai puncaknya dengan
pengembangan senjata nuklir, yang meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki
.
Mungkin belum cukup dengan semua itu, sebenarnya di benak banyak orang,
pasti mengira bahwa profesi ilmuwan, dokter, atau insinyur adalah profesi yang
terhormat dan pasti orang-orang yang berintegritas saja yang bisa demikian.
Saudara-saudara, saya tegaskan disini, bahwa TIDAK ADA KORELASI SAMA SEKALI
antara PROFESI seseorang dengan INTEGRITAS MORALnya. Saya langsung berikan contoh,
Shiro Ishi, Ketua Unit 731 yang mengembangkan senjata biologis Jepang adalah
seorang dokter. Sementara, Josef Mengele, yang menjadikan para tawanan Yahudi
sebagai kelinci percobaannya, juga adalah seorang dokter. Sementara, yang
mengembangkan senjata nuklir, Robert Oppenheimer, adalah seorang Fisikawan.
Juga orang-orang yang menemukan gas Lewisite, Sarin, Mustard, dan lainnya juga
adalah Kimiawan. Orang-orang diatas dengan sadar penuh, rela menggunakan
ilmunya untuk kepentingan politik. Bisa jadi karena mereka tidak punya pilihan
lain, karena negara mereka memaksa mereka untuk menjadi demikian. Hanya saja
pilihan yang mereka ambil menyebabkan banyak nyawa melayang. Tidak ada jaminan
bahwa bila seorang dokter mengucapkan sumpah Hipokrates atau sumpah profesi
lain, yang mewajibkan dokter untuk menolong nyawa pasiennya, maka dokter itu
tidak akan terlibat pada program pengembangan senjata pemusnah masal. Sumpah
itu hanya di mulut saja, sementara hati nurani bisa bicara lain. Seorang Shiro
Ishi dan Joseph Mengele di satu sisi, sementara seorang Albert Schweitzer di
sisi lain, mereka semua sama-sama mengucapkan sumpah hipokrates dan sumpah
profesinya. Namun pihak yang satu menjadi pengembang senjata pemusnah
masal/algojo tahanan politik, sementara yang satu menjadi aktivis kemanusiaan
yang mendapat nobel perdamaian. Politik itu buta (Bukan hanya cinta saja yang
buta). Dia tidak peduli yang telibat itu dokter atau bukan, insinyur atau
bukan, ilmuwan atau bukan. Yang penting begitu seorang teknokrat memasuki dunia
ini, maka akan ada konsekuensi yang sangat serius dari sisi kemanusiaan dan
moralitas. Bisa jadi contoh diatas memberikan contoh secara langsung, bahwa
bukan profesinya yang membuat seorang Albert Schweitzer itu mulia, namun karena
idealismenya yang tinggi untuk menolong sesamanya itu yang membuat seorang Pak
Albert itu mulia. Kemuliaan datang tanpa memandang apa profesi orang. Ia datang
dimana keadilan ditegakkan, Kasus demikian juga terjadi pada Nelson Mandela,
Mahatma Gandhi, dan Martin Luther King Jr yang notabene bukan dokter, ilmuwan,
atau insinyur. Sukar untuk menilai orang dari profesinya. Di satu sisi, banyak
orang yang ingin jadi dokter, ilmuwan, atau insinyur, namun di titik itu tidak
ada yang bercita-cita untuk menjadi MANAJERnya dokter, ilmuwan, atau insyinyur. Bicara manajemen, pasti
berbicara mengenai good corporate
governance (pasti orang ekonomi sudah tahu semua). Sudah jamak sekali
terdengar dokter yang melakukan malpraktek, ilmuwan yang mikirin dirinya
sendiri dan mengisolasi diri, atau insinyur yang bikin gedung/rumah/proyek lalu
ambrol berantakan. Mungkin mereka-mereka ini mesti belajar manajemen sama Pak
Renald Khasali barangkali, supaya menjadi lebih profesional dalam menjalani
profesinya. Disini menarik, saya mengajak bila ada orang ekonomi yang membaca
artikel ini, untuk langsung memberi masukan pada artikel ngolor ngidul ini,
biar semakin jelas arahnya.
Agak sukar juga melihat dilema ini. Sains tidak ubahnya seperti fenomena
“tanaman makan pagar’ atau pisau bermata dua. Saya tak ada habis-habisnya
merenung, semakin tinggi perkembangan sains, maka mesin perang pemusnah yang
diciptakan manusia akan semakin canggih secara kualitas dan kuantitas. Ini
konsekuensi logis dari paradigma positivisme. Sering beberapa pakar
menggulirkan, bahwa sekarang positivisme sudah mati. Sekarang katanya kita
bicara post-positivisme. Faktanya di lapangan, masih banyak yang percaya bahwa
semakin canggih sains, manusia semakin bahagia. Benar-benar sulit.
Walaupun saya seorang kimiawan, saya dengan jujur menyatakan bahwa saya
tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan akan membuat saya bahagia begitu saja
langsung seperti datang dari langit. Sains itu hanya suatu instrumen belaka.
Ada hal-hal
lain yang jauh lebih penting daripada sekedar sains dan teknologi an sich, seperti cinta kasih, kesetia
kawanan, keadilan sosial, dan kejujuran. Semua itu menjadi suatu jaring-jaring
sosial yang menyangga peradaban kita. Masalah percaya tidak percaya. Tapi
sebenarnya pertanyaan diatas belum terjawab….