Anthropobiology
October 11, 2007 by johnkecops
Baru-baru
ini, Lembaga Eijkmann merilis penemuan yang menyatakan bahwa nenek
moyang bangsa Indonesia berasal dari Taiwan, bukan dari Yunan seperti
yang dipercaya oleh banyak orang. Saya pikir semua ilmuwan yang
jujur percaya, bahwa antara intelejensia dengan ras sebenarnya tidak
ada hubungan yang pasti. Bahwa sesungguhnya intelejensia ditentukan
oleh faktor lingkungan. Namun benarkah bahwa lingkungan yang paling
menentukan siapa diri kita? Bukankah istilah “lingkungan
mempengaruhi segalanya” adalah istilah yang dipopulerkan Karl Marx,
untuk mendorong revolusi kaum buruhnya? Bahwa menurut dia, pada
akhirnya kesadaran manusia secara total ditentukan oleh relasi
ekonomi politik antara kaum buruh dan kapitalis, tanpa memberi ruang
terhadap kehendak bebas? Dengan demikian dimana kehendak bebas
manusia? Apakah kehendak bebas hanya spekulasi ngelantur para
eksistensialis seperti Sartre, Bergson, dan Iqbal, atau secara
faktual ia “ada”?
Memang
sekarang ini para ilmuwan cenderung ogah mengasosiasikan ras/gen
terhadap manifestasi budaya manusia, itu dengan alasan kuat. Trauma
perang dunia II, yang dipicu oleh Nazi Jermannya Hitler, yang
bertujuan menghabisi kaum Yahudi, Gipsi, Homoseksual, Slavia, dan
cacat di seluruh eropa membuat banyak orang cenderung menganggap
mengasosiasikan gen/ras dengan budaya sebagai sikap “rasialisme”.
Namun perhatikan ini, mengapa sih orang kulit hitam Amerika adalah
kelompok yang paling produktif dalam hal kesenian, dibanding yang
kulit putih? Rasanya sudah jamak kita kenal musik R&B, Hip-hop,
dan tentu saja Jazz yang notabene ciptaan kaum Black American.
Apakah itu murni faktor lingkungan? Atau pada kelompok Black Amerikan
memiliki gen tertentu, yang memungkinkan mereka sukses dalam
berkesenian, dimana interaksi optimal antara gen dan lingkungan
memungkinkan mereka mengaktualisasikan dirinya sebagai seniman? Dan
kemudian, mengapa justru kelompok bangsa yang paling berperan dalam
perkembangan kebudayaan barat adalah orang Yahudi, dan bukan yang
Kristen? Bukankah selama ini Bangsa Yahudi adalah kelompok yang
paling konsisten dalam menjaga kemurnian rasnya, dengan melakukan
pernikahan di kalangan mereka sendiri?
Agak
lucu kecenderungan sebagian orang yang menganggap teorinya Darwin
sebagai ideologi, yang kemudian kita adu dengan Islam. Pertama-tama,
teori Darwin sebenarnya bukan ideologi, ia hanyalah salah satu teori
dalam sains. Juga harus diletakkan bahwa kebenaran agama dan
kebenaran ilmiah tidak sepantasnya dipertentangkan. Kebenaran agama
adalah yang tertinggi, karena ia adalah wahyu, namun kebenaran ilmiah
juga harus kita pengang, karena itu cara kita untuk mengaktualisasi
diri kita dalam era globalisasi yang penuh tantangan ini. Namun kaum
Nazi Jerman dan Uni Soviet membajaknya, sehingga ia menjadi ideologi.
Teorinya Darwin sebenarnya sama saja dengan teori-teori lain dalam
sains, hanya saja karena tidak ada cara untuk membuktikan secara
pasti kalau evolusi itu terjadi (kecuali kalau kita punya mesin
waktu), maka ia belum bisa disebut sebagai “hukum”. Sama saja
dengan teori atom, karena tidak ada seorangpun yang bisa melihat
tanpa bantuan instrumen super canggih, maka ia tinggal teori saja,
dan tidak bisa dibilang hukum (Seperti hukum Newton).
Menarik
juga antropobiologi itu. Sebenarnya bila orang mempelajari Biologi
secara mendalam, akan menemukan bahwa sesungguhnya secara biologis
manusia itu sama. Penampakan rasial yang berbeda, seperti warna
kulit, bentuk mata, warna rambut, dll, itu hanyalah merupakan
penampakan yang bersifat permukaan. Bila semua itu kita
“singkirkan”, kita akan melihat bahwa manusia memiliki fungsi
organ yang sama, dan gen yang sebenarnya sama juga. Namun interaksi
antara gen dan lingkungan itulah yang menentukan menjadi apa si
manusia itu. Interaksi antara gen dengan lingkungan yang menciptakan
diversitas umat manusia, semenatara gennya sendiri itu sama saja.
Dalam perspektif ini, sebenarnya sikap rasialisme tidak dapat
diperbolehkan, karena sikap itu menghianati konsepsi bahwa kodrat
manusia secara biologis adalah sama.
saya sangat setuju dengan pernyataan saudara bahwa lingkunganlah yang membentuk manusia berbudaya dan bukan karena ras/gen. Secara fisik manusia itu sama seevolusi-evolusinya manusia tetap sipat fisiknya sama, tidak pernah mata letaknya di pantat (maaf) sehingga menandai manusia itu cerdas.