Teori versus Praktek…Mana yang lebih penting?
August 31, 2007 by johnkecops
Rata-rata jika kebanyakan
orang ditanyakan hal ini, pasti akan menjawab praktek. Jawaban ini
sudah jelas arahnya, karena hanya seorang praktisi yang bisa
menghasilkan…uang dan kekuasaan (menurut mereka). Selalu
praktek..praktek…dan praktek. Dalam situasi dimana paham
pragmatisme menguasai kesadaran kita, pemikiran seperti itu tentu
saja meraja lela. Namun selalu menjadi pertanyaan di benak saya, jika
praktek itu lebih penting, kapan orang itu berpikir? Berpikir dalam
hal ini untuk mempertimbangkan langkah apa yang akan dia ambil, dan
konsekuensinya kedepan? Bukankah berpikir adalah aktivitas dasar
manusia, untuk bertahan hidup dan memecahkan masalahnya? Jawaban
‘praktek itu lebih penting’ mengesankan bahwa keputusan yang kita
ambil sama sekali tidak menggunakan pertimbangan yang matang. Malah
mungkin tanpa pertimbangan sama sekali. Prinsip demikian sama dengan
prinsipnya Josef Stalin, pemimpin Uni Soviet, yang berpikir bahwa
‘bertindak dahulu, berpikir kemudian’. Akibatnya, 30 juta rakyat
Soviet tewas karena pemerintahan tangan besinya. Prinsip ‘berpikir
kemudian’ dari Stalin, yang mendorong dia untuk mendeportasi 1 juta
orang etnis minoritas Soviet ke Siberia, karena mencurigai mereka
‘berkolaborasi dengan Nazi Jerman’. Semua tindakan Stalin itu tanpa
ada bukti sama sekali. Sama juga dengan paranoia Hitler dengan
‘masalah Yahudi’, itu berdasarkan prinsip ‘bertindak dahulu, berpikir
kemudian’. Juga paranoia para diktator atau tiran lain di muka bumi
ini, seperti itu juga. Atau malah prinsip mereka ‘bertindak dahulu,
dan tak usah berpikir’ ? Maaf saja, kalau sudah begini, bahkan
primata saja masih lebih baik dari kita. Saya yakin semua ahli
biologi hewan akan setuju, bahwa primata dalam tingkat tertentu masih
bisa berpikir. Bukankah manusia adalah primata yang paling beradab?
Bila demikian, mengapa pola pikirnya kadang bisa lebih payah daripada
primata yang paling primitif sekalipun? Semua tidak lain karena
paradigma ‘praktekisme’ tersebut.
Bila kita masuk dunia bisnis
atau politik dewasa ini, prinsip ‘praktekisme’ seperti ini sudah
umum. Seorang pejabat tinggi negara mengklaim, bahwa ia memilih
kroninya untuk menduduki posisi yang tinggi, karena ia lebih tahu
masalah ‘praktek ekonomi’ daripada orang lain. Ternyata si kroni itu
terlibat masalah bencana pencemaran lingkungan, yang sampai sekarang
tidak ada penyelesaiannya (Bisa tebak sendiri kan maksudnya siapa?).
Selalu diklaim bahwa teori itu tidak penting, yang paling penting
praktek. Namun apakah pemikiran demikian ini bijak? Bila praktek itu
paling penting, sekarang seharusnya Indonesia itu makmur dong, karena
dipimpin oleh pejabat yang ‘paling tahu praktek’. Namun ternyata
masih seperti ini. Bahkan para pejabat yang ‘paling tahu praktek’ pun
tidak bisa berbuat apa-apa sewaktu wasit karate Indonesia disiksa
oleh polisi Malaysia. Pejabat yang ‘paling tahu praktek’pun belum
berhasil menggerakkan sektor riil perekonomian kita yang macet. Ada
apa ini? Quo Vadis kabinet Indonesia Bersatu?
Sama juga bila orang
menganggap teori itu paling penting, ya itu berarti bahwa sang
individu ingin memasuki alam ‘para dewata’. Dia ini sibuk dengan
khayalannya sendiri, yang tidak pernah ditransformasikan menjadi
kenyataan. Pola pikir seperti ini, banyak mencengkram para akademisi
dan ilmuwan, yang mengaku ‘idealis’, sehingga mereka memberi pesan
jelas bahwa uang dan kekuasaan itu tidak ada artinya. Ini sama
anehnya dengan paham ‘praktekisme’. Inilah paham ‘teoriisme’. Paham
ini juga menyajikan kemunafikan yang sama dengan praktekisme. Kalo
mereka mau jujur, untuk hidup di Indonesia ini, perlu duit ngaak?
Untuk menggunakan toilet di Blok M Plaza saja kita harus bayar. Bila
dia sudah menikah, perlu ngaak istrinya diberi nafkah dan anaknya
diberikan pendidikan yang terbaik? Perlu ngaak kita memiliki
penghidupan yang layak sebagai akademisi? Jelas perlu, dan itu perlu
uang. Biaya hidup di Jakarta itu tinggi dan perlu kerja yang smart
untuk memenuhinya. Kalau praktekisme itu bisa dianalogikan dengan
primata, maka kalau ‘teoriisme’ bisa analogikan dengan binatang dewa
seperti naga dan phoenix. Seakan-akan keren naga itu, karena pada
horoskop Tiongkok shio naga itu adalah shio yang terbaik. Namun
kenyataannya, dalam ilmu biologi, naga itu tidak ada. Mereka memasuki
‘alam para dewa’, yang sebenarnya tidak ada Berarti…hanya lamunan
saja dong, aksinya tidak ada. Para penganut ‘teoriisme’ selama ini
hanya mengejar bayang-bayang mereka sendiri, yang sebenarnya bukan
apa-apa. Jangan lupa, bahwa Mahatma Gandhi adalah seorang idealis
yang memiliki nama baik, yang juga bapak bangsa India. Namun
tragisnya, sepeninggal sang ayah, anaknya Gandhi terlunta-lunta dalam
kemiskinan. Stalin dan Gandhi, ternyata bukan sosok yang sempurnya
seperti yang kita bayangkan. Memang wajar demikian, karena tidak ada
satu orangpun yang sempurna. Namun tetaplah kita hormati mereka.
Namun mari kita menjahit secara lebih objektif, dimana sesungguhnya
posisi teori dan praktek yang cocok.Mungkin untuk menutup polemik ini
saya ambil beberapa cerita dari orang-orang terkenal, yang sangat
menginspirasi saya.
Kisah pertama adalah
tentang Henry Ford. Ford sekarang ini dikenal sebagai salah satu
‘bapak otomotif dunia’. Namun siapa yang sangka, bahwa pada
tahun-tahun sebelum dia terkenal, dia itu hidupnya sangat sederhana.
Namun, walaupun belum kaya, dia memiliki idealisme yang sangat
menggebu-gebu. Walaupun tidak pernah kuliah, itu tidak menghalanginya
untuk berkreasi. Dalam imajinasi Ford, dia percaya bahwa pada
akhirnya Amerika akan memiliki mobil pribadi yang kuat, handal, dan
terjangkau. Untuk merealisasikan hal ini, dia jadikan garasi belakang
rumahnya sebagai laboratorium eksperimen otomotifnya. Setiap kali dia
keluar rumah, selalu saja para tetangga mecibir dia, dengan
menganggap bahwa dia sudah gila. Namun Ford tidak peduli. Pada
akhirnya, mobilnya sudah selesai, dan diuji coba keliling perumahan.
Lucunya, tetangganya yang dulu mencibirnya, malah bertepuk tangan dan
mengucapkan selamat ke dia.
Kisah kedua adalah mengenai
Andy Groove. Groove dikenal sebagai salah satu anggota triumvat
pendiri Intel Corporation. Sekarang dia sudah pensiun dari posisinya
sebagai Chairman and CEO Intel . Sekarang ini, 4 dari 5 PC di dunia,
diotaki oleh prosesor Intel. Namun siapa sangka, Groove memiliki masa
lalu yang penuh perjuangan. Dia sebenarnya lahir di Hongaria dengan
nama aseli Andrej Graf, dan beretnis Yahudi. Sewaktu Nazi Jerman
menyerang Hongaria, dia dan keluarganya melarikan diri ke Amerika.
Dalam keadaan masih buta sama sekali dengan bahasa Inggris, dia
berusaha keras untuk menguasai bahasa itu, dan akhirnya bisa. Karena
kerja kerasnya, ia memiliki pendidikan yang tinggi, sampai
mendapatkan PhD dari Departemen Teknik Kimia Stanford University.
Walaupun menjadi busisnessman, ia sesekali masih mengajar di beberapa
universitas. Karena keuletan dan pendidikannya yang bagus, ia
berhasil menjadi tim engineering Intel. Prosesor Intel Pentium yang
dikenal dan sukses besar sampai sekarang ini, merupakan produk yang
diluncurkan dibawa kepemimpinan Andy.
Mungkin dua kisah yang saya
jabarkan mengenai Ford dan Groove memberi inspirasi kepada kita
semua, bahwa pada dasarnya teori dan praktek itu adalah satu
kesatuan. Seperti Siang dan Malam, Panas dan Dingin; semua itu adalah
satu kesatuan. Hanya dengan menggabungkan teori dan praktek,
seseorang bisa memiliki kekayaan lahirian dan batiniah. Kita pisahkan
dan anggap yang satu lebih penting, maka kita tidak akan medapatkan
apa-apa. Kesimpulan: kesuksesan hanya berada di tangan setiap insan
yang mampu memadukan teori dan praktek secara elegan.
BEtul sekali Arly…teori dan praktek itu satu. Dengan bekal gabungan teori yg solid dan pengalaman dari para pendahulu…lalu dibarengi dengan praktek yg terstruktur dan termonitor dengan rapi…maka segala sesuatu menjadi lebih mudah dan tingkat keberhasilannya juga cenderung tinggi.
Terus terang gue suka baca tulisan2 loe…sukses yah bro