Feed on
Posts
comments

A Piece of Sky

Berikut ini adalah terjemahan bahasa Inggris dari posting terdahulu, dengan bantuan google translate, dan revisi ulang dari saya. Direvisi lagi dengan mengacu kamus online lain, sebab terjemahan google translate terlalu ganjil dan tidak kena.
By Herbert Grönemeyer
Why in his name
We also hate each other
When do we stand for our dramas
He is too often used
Everything is in infinity, infinite

Which army is sacred
You do not feel better than I do
The Bible is not the only one
The earth is our duty
She is friendly, kind, we tend not

A piece of heaven
A place of God
A chair in orbit
We are all in the same boat
Here is your house
Here is what counts
You’re covered
From a grandiose World

Religions are too beautiful
They are made for the morale
There is not a noble doctrine
God has no wiser thought
Is the benefit of the edge

What justifies the means ideal
Who now clears the fire
Legions of crusaders
Have blind hatred
Everything infinitely why infinite, crude time

A piece of heaven
A place of God
A chair in orbit
We are all in the same boat
Here is your home
This is your goal
You are a unique
The oracle his own plays
There is too much thought
And scarcely told
There are stories
Such a world

Hardships, legends
Fates, life and death
Happy endings
Pleasure and comfort
A piece of heaven
The place of God
There are billions of colors
and each is a different Red
This is your home
This is our time
We do a lot right
But we do not made it easy
This is my house
This is my goal
Whoever proves nothing
The evidence already damned much

There is no enemy
There is no victory
Nothing belongs nobody alone
No one has earned his life
There is enough for all
There are a lot of easy money
We have rough quantities
And we share this world
We have an obligation

She is friendly
Why we do not actually

Stück Vom Himmel

Lied von Herbert Grönemeyer

Warum in seinem Namen
Wir heissen selber auch
Wann stehen wir für unsere Dramen
Er wird viel zu oft gebraucht
Alles unendlich, unendlich

Welche Armee ist heilig
Du glaubst nicht besser als ich
Die Bibel ist nicht zum Einigeln
Die Erde ist unsere Pflicht
Sie ist freundlich, freundlich, wir eher nicht

Ein Stück vom Himmel
Ein Platz von Gott
Ein Stuhl im Orbit
Wir sitzen alle in einem Boot
Hier ist dein Haus
Hier ist, was zählt
Du bist überdacht
Von einer grandiosen Welt

Religionen sind zu schonen
Sie sind für die Moral gemacht
Da ist nicht eine hehre Lehre
Kein Gott hat klüger gedacht
Ist im Vorteil, im Vorteil

Welches Ideal heiligt die Mittel
Wer löscht jetzt den Brand
Legionen von Kreuzrittern
Haben sich blindwütig verrannt
Alles unendlich, warum unendlich, krude Zeit

Ein Stück vom Himmel
Ein Platz von Gott
Ein Stuhl im Orbit
Wir sitzen alle in einem Boot
Hier ist dein Heim
Dies ist dein Ziel
Du bist ein Unikat
Das sein eigenes Orakel spielt
Es wird zuviel geglaubt
Und zuwenig erzählt
Es sind Geschichten
Sie einen diese Welt

Nöte, Legenden
Schicksale, Leben und Tod
Glückliche Enden
Lust und Trost
Ein Stück vom Himmel
Der Platz von Gott
Es gibt Milliarden Farben
und jede ist ein anderes Rot
Dies ist Dein Heim
Dies ist unsere Zeit
Wir machen vieles richtig
Doch wir machens uns nicht leicht
Dies ist mein Haus
Dies ist mein Ziel
Wer nichts beweist
Der beweist schon verdammt viel

Es gibt keinen Feind
Es gibt keinen Sieg
Nichts gehört niemand alleine
Keiner hat sein Leben verdient
Es gibt genug für alle
Es gibt viel schnelles Geld
Wir haben raue Mengen
Und wir teilen diese Welt
Wir stehen in der Pflicht

Sie ist freundlich
Warum wir eigentlich nicht

Perjalanan ke Bielefeld

Alhasil, tanggal 12-14 september 2008 kemarin, saya jalan2 ke Bielefeld. Ya, saya bertemu dengan IMW, Mbak Anthy istrinya, dan Dhava, anak mereka. Nginep disana. Lalu saya ngobrol ngolor ngidul sama IMW, sampai larut malem. Lalu hari sabtunya, buka puasa bareng. Ketemu Mas Eko, dan istri, juga mahasiswa Indonesia lain yang berada di Bielefeld. Serulah….Link fotonya ada di bawah ini:

http://imw85.multiply.com/photos/album/95/Dhava_dikunjungi_Arli.

Kebersamaan tim DAAD'08 di Potsdam. Semoga bisa terulang lagi di kesempatan lain.

Kebersamaan tim DAAD'08 di Potsdam. Semoga bisa terulang lagi di kesempatan lain.

Nah….jangan buru-buru menganggap saya berbicara tentang ‚summen leven‘ lho..:-). Itu kan udah saya bahas di posting sebelumnya. Hehehe. Dari awal Juni, sampai akhir September nanti, saya masih tinggal di Richtsberg 88, Marburg. Suatu hal yang tidak kami duga sebelumnya, bahwa saya akan satu wohnung dengan rekan dari Indonesia juga, yang tentu laki-laki. Inilah suatu ‚wohn gemeinsamt. Jadi, saya berbagi dapur, WC, koneksi internet dan ruang tamu dengan rekan yang lain. Juga berbagi dalam menonton TV. Beruntung juga sih, DAAD menempatkan saya dengan rekan sebangsa, jadi jika ada apa-apa bisa dengan mudah dikomunikasikan. Bukan sekedar masalah bahasa, namun juga masalah komunikasi kultural. Dengan rekan sebangsa, dalam banyak hal kita bisa lebih mengkomunikasikan ide dan pemikiran kita dengan mudah, terutama dalam konteks hidup bersama. Kalau dalam dunia akademis dan sains, saya rasa tidak masalah sebangsa atau tidak. Namun kalau dalam ,wohngemeinsam‘, rasanya sebaiknya masih sebangsa. Saya adalah pengagum ide sosialisme, dimana properti adalah milik bersama. Lucu juga, bahwa apa yang saya jadikan ideal, akhirnya saya praktekkan juga di Jerman ini. Menarik.
Ya..kadang ada ketidak setujuan mengenai hal-hal tertentu, kadang ada kebingungan dan salah paham, walau sebangsa, dalam konteks hidup bersama. Disitulah seninya, bagaimana hidup bersama bisa tercapai konsensus dan harmonisasi, demi keberlangsungan kepentingan bersama juga. Namun satu hal yang sangat mengesankankan, yaitu kami bisa menyusun tur bareng bersama. Sudah beberapa kota kami jelajahi bareng, dengan ,wochen ende‘ ticket, yaitu Munchen, Berlin, dan Heidelberg.  Banyak hal menarik yang menjadi hikmah bagi kami. Foto-foto kunjugannya bisa dilihat di profil FS saya. Sementara yang digabung dengan bangsa lain, yaitu ke Eisenach, Weimar, dan Koln. Kalau ke Bonn, itu adalah dalam rangka acara ,DAAD Stipendien Treffen‘. Dengan kompaknya, kami menjelajahi kota2 tersebut bersama. Luar biasa memang, dalam kurang dari 4 bulan, banyak tempat di Jerman sudah kami kunjungi.
Ada pendapat, bahwa pada dasarnya manusia itu egois. Dalam kasus saya, itu sangat berbeda. Kalau kami mempraktekkan egoisme di ,wohngemeinsam‘, bisa gawat..:D. Bisa jadi dalam satu wohnug kita ber,perang‘ kata-kata, malah mungkin berantem terus. Kalo begini, kursus bahasa kita ndak bakal jalan, malah memusuhi bangsa sendiri lagi. Sejak awal, kami sudah membuat konsensus, supaya kalau ada masalah apa-apa, dibicarakan diawal. Adalah tidak mungkin, misalnya, karena egoismenya kita, lalu menyurati DAAD supaya dipindahkan ke einzel wohnung (apartemen untuk satu orang). DAAD tidak akan memperdulikan permintaan egois seperti itu. Lagi-lagi, walaupun sangat klasik, dan bagi penganut individualisme ini terkesan sangat klise dan membosankan, tapi kami selalu menyelesaikan masalah kami dengan ,musyawarah untuk mufakat‘. Selalu kami berusaha mencari konsensus, supaya aktifitas sehari-hari bisa berjalan lancar. Misalnya soal membuang sampah, sudah ada salah satu dari kami yang secara sadar membuang sampah wohnung, tanpa disuruh. Lalu mengenai akses internet, memasak dan mencuci piring, sudah ada jadwal piket yang ditaati dengan baik. Jika ingin digeser, itu tergantung konsensus saja.
Akhir September, saya akan pergi ke Hannover untuk memulai riset saya. Rasanya saya akan sangat merindukan kota Marburg dan pengalaman menarik yang kudapat selama ini…..

   Pada suatu hari, ada seorang Jerman naik taksi di Surabaya. Alhasil, dalam perjalanan, supir taksi tersebut bertanya, ‘Where did you come from’?. Si Jerman menjawab, ‘ I come from Germany’. Namun menariknya, dengan spontan supir taksi tersebut menyeletuk, ‘Germany..FREE SEX!’. Si Jerman hanya mangut-mangut saja sepanjang perjalanan mendengar reaksi spontan yang terkesan melecehkan tersebut.
   Mengapa di Jerman, hubungan diluar nikah menjadi sesuatu yang sangat umum? Hal ini tidak bisa dikaji semata-mata dengan kacamata agama an sich. Sudah jelas, jika kita menggunakan kacamata agama, kebiasaan tersebut adalah kebiasaan orang ‘kafir’ yang harus diperangi dan dibenci. Pokoknya harus ada ijab kabul dulu, baru seks. Namun pengkafiran seperti demikian sama sekali tidak melihat fakta sosial yang ada dilapangan. Hanya merujuk pada kitab-kitab kuning dari masa lalu, namun tidak peduli dengan fakta sosial-budaya. Bukan hanya pre marital sex yang harus diperangi, namun kebiasaan minum minuman keras, dan makan babi misalnya. Itu diangga kebiasaan orang kafir juga yang harus diperangi, bahkan kalau perlu sampai berdarah-darah. Pemikiran inilah yang memotivasi Imam Samudra dkk untuk membom Paddy Club di Bali pada tahun 2002 lalu, dimana banyak orang Australia menjadi korban. Alhasil para bomber tersebut sekarang berada di ‘hotel prodeo’.                     
    Jika kacamata agama yang dilihat, sudah jelas tidak ada kompromi. Jerman, tempat saya tinggal sekarang, jika menggunakan kacamata ini, jelas adalah negara tempat orang tak bermoral. Free sex, makan Babi, dan alkoholism adalah sesuatu yang umum di Jerman.
   Namun, jika kita menggunakan kacamata sosiologi, fakta sosial akan berbicara lain. Jerman pada masa lampau, sebelum perang dunia I, adalah Jerman yang masih memegang nilai-nilai keluarga. Namun nilai-nilai tersebut dipegang, semata-mata karena fungsi ekonomi. Dalam sebuah keluarga, maka pria berperan sebagai pencari nafkah, dan wanita sebagai ibu rumah tangga. Boleh dibilang sama dengan Indonesia masa sekarang. Saat itu, keluarga berfungsi sebagai unit ekonomi yang mandiri. Pernikahan adalah instrumen untuk memperkuat ekonomi keluarga, misalnya sang wanita dari keluarga yang tak mampu, menikah dengan pria yang mampu. Tentu saja hal ini akan membuat keluarga sang wanita menjadi naik status ekonominya, karena dibantu sang pria. Dalam kondisi ini, negara tidak berperan apapun dalam mendukung keluarga. Saat itu belum ada asuransi kesehatan dan jaminan sosial yang bagus untuk semua orang, sekali lagi sangat mirip dengan kondisi Indonesia sekarang. Alhasil keluarga harus menjadi mandiri secara ekonomi, dan pernikahan adalah cara paling efektif untuk menaikkan status ekonomi juga.
   Perkembangan kedepan akhirnya berbicara lain. Jerman menjadi negara maju, dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia. Dengan kemajuan ekonomi tersebut, maka negara akhirnya mampu memberikan jaminan sosial dan kesehatan yang sempurna bagi warganya. Ada tunjangan bagi pengagguran, dan ada asuransi kesehatan yang terjangkau, sehingga tidak ada cerita orang Jerman yang melarat. Mencari kerja, dalam bidang tertentu, relatif lebih mudah. Misalnya, untuk bidang IT diperlukan banyak lowongan sekarang. Namun, dengan kemajuan ekonomi yang dinikmati Jerman sekarang, berkonsekuensi pada semakin berkurangnya peran keluarga. Menikah dianggap bukan sesuatu yang penting, karena fungsi suami sebagai pencari nafkah sudah tidak penting. Kerja dianggap bukan sebagai pencari nafkah (fungsi ekonomi), namun lebih pada fungsi aktualisasi diri (fungsi psikologis). Karena membentuk keluarga sudah dianggap tidak penting, maka hidup bersama diluar ikatan pernikahan menjadi umum (zusammen leben). Keluarga sudah tidak berfungsi sebagai unit ekonomi, karena semua fungsi ekonomi sudah diambil oleh negara (asuransi kesehatan, sosial, sekolah murah/gratis, dll). Menjadi logis jika zusammen leben menjadi umum. Bahkan harus keep in mind, kalau menikah di Jerman, seremoni secara agama sama sekali tidak wajib. Upacara pernikahan dilangsungkan di Rathaus, dan notaris menjadi pihak yang mencatatkan pernikahan, bukan pastur atau pendeta. Jadi lebih bersifat ‘sekuler’, seperti model pernikahan yang diwariskan oleh Revolusi Perancis.
   Hal tersebut yang memang sukar diterima oleh kebanyakan orang Indonesia. Peran agama dan keluarga masih sangat kuat. Bahkan UU perkawinan tahun 1974 mewajibkan supaya menikah harus menggunakan pemuka agama sesuai agama masing-masing. Menikah di rathaus seperti model Jerman itu, sudah jelas adalah pemikiran ‘kafir’. Memang jika sudah dari awal berpendapat bahwa Jerman adalah negara yang tidak bermoral, mungkin sudah waktunya yang berpikir demikian untuk mengevaluasi keberadaannya di Jerman (jika dia sekolah di Jerman). Aneh jika kita hanya mau memahami perkembangan sains dan teknologi Jerman, namun menolak, bahkan mengkafirkan budaya dan fakta sosial di Jerman. Ini berarti hanya menerima setengah-setengah terhadap apa yang disebut Jerman itu.
   Sebenarnya, jika kita tetap memegang teguh, bahwa menikah itu penting, dan tidak minum minuman alkohol, itupun tidak apa-apa. Orang Jerman pun akan memahami keputusan tersebut, karena bagaimana kita berhubungan dengan pria/wanita, atau apapun yang kita makan/minum itu adalah tanggung jawab kita sendiri. Mereka tidak punya hak untuk memaksakan pendapat mereka tentang hal tersebut, dan juga tidak punya hak untuk memaksa kita makan babi atau minum alkoholik. Namun…ada satu hal yang biasanya dilupakan oleh orang Indonesia..JANGAN pernah mengajari orang Jerman bahwa menikah itu paling penting, dan babi atau alkohol itu haram. Mereka akan memahami keputusan kita mengenai tiga hal tersebut, namun akan sangat tersinggung jika kita mengajari mereka. Jangan disangka kalau kita mengajari mereka, justru mereka akan ‘bertobat’ atau ‘insyaf’ untuk kemudian ‘kembali ke jalan yang lurus’. Tidak akan ada demikian! Adanya mereka menjadi semakin menjadi-jadi, dan justru kita akan dimusuhi mereka. Mereka tidak akan pernah memaksakan nilai-nilai moral mereka ke kita, dan kita pun harus tidak memaksakan nilai-nilai kita ke mereka. Juga satu hal….sebaiknya pemikiran bahwa Jerman adalah sarang orang tidak bermoral harus dibuang jauh-jauh (bagi yang sekolah di jerman). Agak konyol kalau kita menggunakan standar ganda, di depan orang Jerman kita bermanis mulut, namun dibelakang, mereka kita kafirkan. Ini adalah kebohongan dan kemunafikan yang nyata.
   Rasanya salah satu hal mengapa hal ini terjadi, karena latar belakang pendidikan juga. Terutama yang berasal dari latar belakang ilmu alam/sains-tek, biasanya cenderung berpikir bipolar (baik/jahat), alias secara hitam putih. Pokoknya kalau tidak benar, ya pasti salah. Hal yang bersifat abu-abu dianggap tidak ada. Alhasil pemikiran seperti ini, akan menyebabkan kita gagal memahami fenomena sosial-budaya. Dalam ilmu sosial-kemanusiaan, tidak ada hitam absolut, atau putih absolut. Dalam putih, bisa ada sedikit hitam, dan dalam hitam, bisa ada sedikit putih juga. Namun memang hal ini tidak bisa terlalu disalahkan juga. Rumpun keilmuan IPA/sains-tek hanya mempelajari ilmu sosial dasar selama satu semester di perguruan tinggi, jelas sangat kurang waktu untuk memahami fenomena sosial budaya. Outputnya adalah absolutisme yang bersifat hitam putih. Jika menggunakan kacamata kuda seperti ini, jelas fenomena free sex dan alkoholism, adalah sesuatu yang kafir atau sesat. Namun biasanya sosiolog atau psikolog tidak akan menggunakan kacamata yang hitam putih seperti ini. Penjelasan mereka pasti selalu berusaha mencari ‘both side of the story’ yang lebih seimbang. Misalnya, untuk menganalisa fenomena seksualitas, psikolog bisa menggunakan psikoanalisa Freudian, yang menggali ‘oedipus complex’ atau ‘electra complex’. Sosiolog bisa menggunakan analisis struktur masyarakat, misalnya bangunan sosio-ekonomi, yang mengakibatkan keluarga menjadi berkurang fungsinya (seperti yang sudah dijelaskan diatas). Jika kacamata sosio-kemanusiaan digunakan, maka hasil analisanya akan jauh lebih ilmiah, daripada menggunakan kacamata hitam/putih. Dalam forum ini, memang adalah hal yang sangat baik jika orang kedokteran, MIPA, dan Teknik mendapat insight yang lebih kuat mengenai bagaimana memahami fenomena sosial-budaya. Saya melihat sampai detik ini, pemikiran mereka masih terlalu hitam/putih dalam hal itu.

* Terima kasih pada Guido Schniders dari DAAD dan Yusri Fajar dari UNIBRAW, yang telah menyumbangkan pemikirannya mengenai Fungsi keluarga di Jerman dan fenomena sosio-kulturalnya.

Disinilah aku, mendarat di tanah Jerman bersama DAAD Stipendien reguler angkatan ‘08. Alhasil saya sudah mendarat di kota Marburg, dan memulai kursus bahasa di Speak + Write. Di Marburg, rombongan kami berjumlah 5 orang. Ada yang dari UI, IPB, dan Departemen ESDM. Alhasil kami ditempatkan di wohnung yang nyaman di Richtsbergstrasse 88. Saya menshare wohnung dengan Pak Akbar dan Pak Hawis, di Erdgeschoss 4. Sementara temen saya, Verra dan Lita, di lantai 11. Biarpun berbeda lantai, komunikasi kami juga tetap baik.
Di Marburg ini, memang mau tidak mau kita dipaksa untuk berbahasa Jerman. Dengan bahasa Jerman yang masih seadanya, kita harus berkomunikasi. Situasinya berbeda dengan kota besar, seperti Frankfurt atau Hannover, dimana kemampuan berbahasa Inggris sudah umum. Namun pada dasarnya aku senang di sini, karena bisa punya banyak teman. Ada teman dari US, bekas soviet, Palestina, Uganda, dan Korea Selatan. Itu baru teman sekelas, yang dari lain kelas ada dari Bangladesh, Thailand, India, dll. Menyenangkan sekali. Namun memang kita harus mencari cara untuk menghalau kebosanan yang kadang-kadang menghantui kita. Salah satu terapinya adalah dengan menulis blog.
Satu hal yang juga menyenangkan, saya juga bertemu DAAD stipendien dari Indonesia, yaitu Kartika. Dia ternyata mengambil program profesional (non reguler), yang diperuntukkan untuk industri dan swasta. Cukup banyak juga informasi dari dia yang kudapat, karena dia sudah dari bulan april tiba di marburg ini.
Sering kali kita suka punya perasaan rindu dengan keluarga kita, atau tunangan di tanah air. Syukurlah bagiku, ada obat untuk rasa rindu itu. Keluarga di Belanda sudah mengundang aku untuk pertemuan di Bulan Agustus. Jadi nanti aku akan ke Amsterdam. Yah..hitung-hitung menyambung lagi tali silaturahmi yang sempat terputus, karena jarak Indonesia dan Belanda yang sangat jauh. Pasti akan seru pertemuan itu, apalagi saudaraku sudah mengontak via handy untuk pertemuan demikian. Bagaimanapun memang aku berharap bisa bertemu orang tuaku lagi dan mengurus pernikahanku dalam waktu dekat. Adapun hal terakhir ini masih harus dilihat lagi, apakah feasible atau tidak.
Awal bulan Juli ini, aku akan ke Hannover untuk bertemu profesorku. Semoga mengenai riset dan wohnung menjadi jelas setelah kami bertemu.

Lao Tzu berpendapat, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah jika ia meniru
prinsip hidup dari…pohon bambu!. Pohon bambu itu akarnya kuat, dan
mampu bertahan dari badai. Namun jika badai datang, dia akan bisa
menunduk. Jika badai berlalu, dia akan berdiri tegak lagi. Saya
adalah fans Lao Tzu dari sejak lama. Banyak filosofi dia yang
mengajak manusia untukbersatu dengan alam dan dengan sesamanya.

Ada perbedaan antara kesombongan dengan mengkritisi ketidak adilan. Jika
kita terseret kedalam situasi di tempat kerja, dimana rekan kita yang
tidak pernah melakukan apa-apa dan tidak tahu apa-apa, namun dia
mendapatkan apresiasi dari institusi tempat kerja kita. Sementara
kita sendiri yang bekerja pontang-panting siang dan malam atas nama
institusi, namun mereka tidak memberikan apresiasi sama sekali,
bahkan kepegawaian kita pun juga masih belum beres, wajar sekali kan
jika kita mengeluh? Namun apa pendapat anda, jika kita keluhkan
keadaan ini, jawabannya dari atasan kita sangat singkat, ‘Kamu jangan
sombong dan menyangka kamu lebih baik dari mereka’, lalu atasan kita
membela habis-habisan orang yang kita kritik, bahkan bilang ‘kamu
jangan mengeluh saja!’.. Jika kejadiannya demikian, kita sudah
menjadi korban politik kantor. Ini bukan masalah kesombongan, tapi
masalah kezaliman atau ketidak adilan. Tidak ada gunanya apologi
‘Saya tidak sombong dan tidak merasa lebih baik dari mereka’, karena
semua itu sudah skenario politik dari para petinggi….You are
totally alineated from your office!

Politik kantor adalah suatu hal yang wajar dan terdapat dimana-mana. Entah
kita bekerja di swasta, militer, pemerintahan, NGO, atau apapun, yang
namanya politik kantor pasti eksis. Selalu ada klik-klik di kantor
berdasarkan suku, agama, alamater, dll. Dalam pertarungan antar klik,
selalu saja ada yang menjadi korban. Sering kali kita menolak
mengakui politik kantor itu ada, padahal ia sangat riil. Jadi tentu
saja politik kantor beda dengan kesombongan.

Saya sering kali menemui banyak orang yang lebih cerdas dari saya. Aku
sendiri mengakui bahwa mereka berperan sangat penting dalam membantu
perjalanan karir saya sebagai ilmuwan. Sukar dibayangkan, jika
orang-orang itu tidak ada, jadi apa diri saya. Pertemuan dengan
mereka menyebabkan saya selalu ‘eling’, bahwa selalu ada langit
diatas kita. Namun saya sekali, orang-orang tersebut akhirnya selalu
harus berpisah dengan saya. Perpisahan itu terjadi karena mereka
mengadu nasib di luar negeri. Sedihnya, perpisahan itu terjadi karena
negeri ini tidak mampu mengakomodasi idealisme mereka, alias mereka
korban dari politik kantor juga. Hal yang sama juga akan saya lakukan
dalam waktu dekat, yaitu hijrah ke luar negeri.

Disatu sisi saya bersyukur, bahwa saya akan melanjutkan studi di negeri
dimana politik kantor hanya dilandaskan satu aspek, yaitu apresiasi
bagi yang rajin, dan degradasi bagi yang malas. Di tempat saya
melanjutkan studi nanti, tidak mungkin kita temui orang yang tidak
bisa apa-apa malah mendapatkan apresiasi. Tidak peduli suku, agama,
alamater, afiliasi politik, atau apapun, pokoknya yang berprestasi
pasti mendapatkan apresiasi. Justru semakin tidak mungkin saya
menjadi sombong, karena negeri tempat saya melanjutkan studi ini
merasa bahwa mereka diatas segala-galanya di dunia. Tentu saja, saya
harus bekerja keras supaya bisa memenuhi standar mereka.

Hal lain yang mesti saya syukuri, adalah di negeri ini, saya akan bertemu
dengan teman-teman baru yang penuh idealisme, rajin, dan cerdas.
Besar kemungkinan mereka ini jauh lebih cerdas dari saya, dan bukan
tak mungkin mereka lebih muda dari saya. Saya sangat antusias untuk
bisa bekerja sama dengan pemuda-pemuda yang penuh idealis, dan semoga
saya bisa belajar banyak dari mereka.

Saya akan selalu memegang teguh prinsip sederhana….Jadilah seperti pohon
bambu!. Dengan prinsip ini, kita bisa tetap rendah hati, namun tetap
memiliki prinsip dan idealisme. Namun sedihnya lagi, jika nanti saya
kembali ke Indonesia, saya justru mesti memanfaatkan politik kantor
juga untuk mendapatkan posisi di sini. Jelas ini bukan berdasarkan
prestasi saya, tapi berdasarkan klik. Susah juga……walaupun ini
sekedar harapan, saya berharap jika saya kembali, institusi yang
menerima saya semoga melihat prestasi saya, bukan dari mana klik
saya. Buah simalakama, bagaimanapun saya harus tetap kembali ke
Indonesia, karena saya berkewajiban membantu orang tua saya.
Merekalah alasan paling kuat mengapa saya harus kembali ke negeri
asal. Repotnya saya harus mengoptimasi apa yang saya pelajari di luar
negeri, dengan kondisi di negeri asal. Perlu perjuangan.

Memang pernah ada beberapa orang yang mengingatkan saya, supaya jangan
sombong. Saya sendiri juga agak heran, mengapa mereka ngomong
demikian. Apa karena mereka melihat saya sangat terdidik, dan mereka
banyak melihat ‘plenty educated man become arrognant?’, ndak tahu
juga. Untungnya saya sendiri bukan tipe orang yang suka berceloteh
sana-sini tentang prestasi saya. Walaupun saya ini sudah S2, dan
InsyaAllah sebentar lagi S3, saya tidak pernah mencela-cela atau
meremehkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah. Saya merasa
merendahkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah adalah
buang-buang waktu dan tenaga, yang sebaiknya dimanfaatkan untuk hal
lain yang lebih berguna. Tokh apa gunanya mengagung-agungkan titel
kita? Tokoh besar seperti Nabi Muhammad SAWdan Sokrates saja tidak
memiliki ijazah, dan sangat kebablasan kalo kita yang memiliki ijazah
merasa lebih tinggi dari mereka. Sebuah ironi melihat bahwa banyak
sarjana menjadi Doktor atau profesor karena mempelajari pemikiran
Sokrates dan Nabi, padahal objek kajian mereka sendiri tidak memiliki
ijazah…:-). Lagipula titel tidak bisa dibawa ke liang lahat.
Sebagai muslim, saya percaya bahwa amal baik saya yang akan dihisab
di hari akhir, bukan titel saya. It doesn’t seem right to believe
that title will make us something.

Kisah yang juga menjadi inspirasi saya adalah kisah Firaun dan Nabi Musa
as. Seperti yang sudah kita semua ketahui. Firaun adalah seorang raja
yang sangat sombong. Ucapannya,’Bukankah aku adalah Tuhanmu’,
menunjukkan betapa arogannya dia. Adapun akhirnya air bah
menenggelamkan dia dan armadanya. Sementara Nabi Musa as, yang
awalnya adalah pangeran Mesir, justru mau bergabung dengan Bani
Israil yang merana. Alhasil Bani Israil bisa mencapai tanah terjanji.
Kasus Firaun selalu menjadi peringatan bagi saya mengenai nasib
orang-orang sombog, yang akhirnya mengalami kehancuran.

Jadi…sombongkah saya? It’s up to you to judge me guys…hihihi..:-).

Setelah saya berdiskusi sekian lama dengan pihak DAAD, yang telah melakukan
perbandingan antara  kehidupan sosio ekonomi di Jerman dan Indonesia,
ternyata ada beberapa perbedaan fundamental yang perlu digaris bawahi
diantara keduanya. Jelas kita tidak akan bicara tentang skala
kemakmuran antara kedua negara, yang jelas sangat berbeda.
Membandingkan ekonomi, riset, dan pendidikan Indonesia dan Jerman
secara langsung jelas tidak pas. Kita akan membandingkan sisi
perbedaan sosiologis antara kedua negara.

Hal pertama yang akan kita sorot, adalah peran keluarga dan negara. Di
jerman, sampai sekitar 100 tahun yang lalu, keluarga masih memainkan
peranan penting dalam menjamin kehidupan anggota-anggotanya. Keluarga
adalah unit ekonomi yang bertugas menjadi organ otonom, yang memenuhi
segala kebutuhan stake holdernya. Adapun, para pemikir eropa akhirnya
menyadari, bahwa membebankan semua kebutuhan ekonomi pada keluarga
akan menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan riset atau pendidikan
yang mandiri. Jika pengembangan riset atau pendidikan ditumpukan pada
keluarga, itu akan terlalu berat. Tidak mungkin ada riset atau
pendidikan Oleh karena itu, mereka mengusulkan supaya peran negara
diperkuat, sehingga negara menjadi organ yang berfungsi untuk
memenuhi segala kebutuhan dari warga negaranya.

Di Eropa, negara mengatur segala hal mengenai sustainibilitas ekonomi
warganya. Setiap warga negara diusahakan mendapatkan asuransi
kesehatan dan jaminan sosial. Di Jerman, jaminan sosial itu berupa
arbeitlosgeld, yaitu monthly allowance bagi para penganggur. Dengan
dipenuhi segala kebutuhan dasarnya, maka penganggur tidak akan
menjadi kriminal. Birokrasi dibuat efisien dan profesional , sehingga
berperan untuk mengayomi warganya.

Berbeda sekali dengan Indonesia. Sampai detik ini, peran keluarga masih
sangat dominan sebagai unit ekonomi, dan peran negara lemah sekali
dalam menjamin penghidupan warganya. Tidak ada asuransi kesehatan
yang baik bagi semua orang, dan tidak ada jaminan sosial yang benar.
Birokrasi belum efisien. Begitu dominannya peran keluarga, bahkan
sampai keluargapun bisa menentukan profesi dan jodoh dari setiap
anggotanya.  Berbeda sekali dengan di Eropa, dimana profesi dan jodoh
itu adalah urusan masing-masing individu.

Selama peran negara lemah dan peran keluarga kuat, maka dapat dibayangkan
dunia riset dan pendidikan Indonesia akan suram. Jelas keluarga
manapun tidak ingin anaknya menjadi guru/dosen/ilmuwan, karena
imbalannya sangat tidak memadai. Jelas mereka ingin setiap anaknya
masuk kedalam profesi-profesi yang secara materi lebih menjanjikan.
Pilihan profesi bagi setiap lulusan sarjana sangat terbatas, karena
yang menjadi faktor utama adalah ‘carrot and stick’ berupa materi.
Liberalisme seperti ini sangat sukar bagi pengembangan riset dan
pendidikan di Indonesia. Jalan keluarnya entah bagaimana, karena
menaikkan gaji guru/dosen/ilmuwan ditengah fluktuasi harga minyak
dunia sekarang ini jelas tidak realistis.

Alhasil memang siapapun yang eksis di dunia riset atau pendidkan, maka
menyambi adalah keharusan. Berkolaborasi dengan keluarga, untuk
mengembangkan entrepreneurship adalah salah satu opsi yang baik untuk
memperkuat perekonomian keluarganya sendiri. Ditengah gagalnya peran
negara dalam menjamin penghidupan warganya, maka entrepreneurship
adalah satu-satunya pilihan bagi kita untuk eksis secara
sosio-ekonomi. Demikian dulu curhat aku.

Pengendalian Emosi

Pada dasarnya pengendalian emosi selalu menjadi tantangan bagi kita semua dalam mengaktualisasikan diri kita. Sukarnya memang, kalau kepala ini lagi mumet dan berisi segala macam pikiran yang berterbangan, dapat saja dengan mudah kita menjadi emosi. Padahal pemicu emosi itu hanya masalah kecil, tapi karena dikepala banyak berterbagan pikiran-pikiran lain yang lebih mumet, jadinya masalah kecil bisa menjadi besar.
Solusinya memang kita mesti bisa melakukan ‘mind mapping’. Pertama, kita harus bisa menempatkan prioritas, mana hal-hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang belakangan. Kedua, kita pun juga harus bisa membedakan mana masalah kecil dan mana masalah besar. Masalah besar yang diselesaikan duluan, dan masalah kecil bisa diselesaikan dengan lebih santai. Ketiga, kita mesti lebih rileks dan santai dalam menghadapi permasalahan. Sering kali masalah itu datang dari orang-orang yang dekat dari kita. Sering kali kita merasa bahkan orang yang paling dekat dengan kita, ternyata tidak mampu memahami kita dengan baik. Sering kali pemikiran kita dianggap sepi oleh orang-orang yang kita cintai, namun justru lebih dihargai oleh orang lain diluar lingkaran dalam kita. Situasi ini menyakitkan dan ironis, karena tentu kita mengharapkan agar orang2 dekat kita mampu memahami kita, namun ternyata sering kali tidaklah demikian. Namun aku selalu ingat, bahwa Nabi sering sekali tidak dikenal atau bahkan ditolak di kampung halamannya. Justru diluar kampung halamannya mereka lebih terkenal. Ada kalanya kesabaran sangat penting dalam hal ini.
Solusi paling jitu dalam pengendalian emosi adalah sholat, sembahyang, atau meditasi dengan benar. Sebetulnya proses2 yang saya sebut didepan itu adalah proses relaksasi dan reporgramming pikiran, agar pengendalian emosi dapat dilakukan. Hal inilah yang harus dilakukan dengan sangat baik. Jika berhasil dengan baik, maka niscaya kita akan menjadi orang yang sabar dan tabah. It’s just my one bucks coffee after all…:-)

Dosen dan ilmuwan beraksi di tengah pusat pertokoan? Tak
tanggung-tanggung, mereka bertestimoni mengenai indahnya menulis sains
popular di dunia maya. Itulah yang terjadi di ajang Talkshow "Internet
sebagai Media Popularisasi Sains" yang digelar Netsains.Com pada sabtu,
2 Februari 2008, di tengah SENIT Expo. Bertempat di satge lower ground
Senayan Trade Center (STC), acara dibuka oleh Idwan Suhardi, Deputi
Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementrian Riset dan Teknologi.

Oplah Tertinggi


"Internet adalah media dengan oplah tertinggi di dunia.
Di Indonesia saja diklik oleh 18 juta orang setiap hari. Jadi
mengalahkan Kompas dan media cetak lainnya," ungkap Romi Satria Wahono,
pendiri Ilmukomputer.Com yang juga kontibutor Netsains.Com.

Lelaki yang juga peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) yang mengenyam pendidikan 10 tahun di Negeri Sakura
ini bertutur tentag suka duka berbagi ilmu di Internet sejak 2003
silam. Romi mengaku menulis blog sudah menjadi kebutuhan tersendiri
yang kadang bisa mengalahkan pekerjaan sekalipun. "Saya bisa menolak
panggilan hanya karena memang sedang ingin menulis saja di rumah."
Ujarnya.

Merry Magdalena, dalam kapasitasnya sebagai founder
Netsains, maju sebagai moderator talkshow. Sebelum pembicara yang lain
dipanggil maju. Merry memberikan presentasi singkat mengenai komunitas
Netsains. Presentasi tersebut diharapkan bisa memberikan penjelasan
kepada audiens mengenai Netsains. Presentasi disampaikan dengan jelas,
lancar, dan informatif.

Tak Takut Dibajak


Tak kalah menarik aksi Budi Rahardjo. Dosen Fakultas
Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku menulis di
Internet jauh lebih banyak manfaatnya kendati tidak ada honorarium sama
sekali. Walau karya tulis ilmiahnya sempat dibajak menjadi skripsi
orang lain, ia tidak pernah kapok untuk terus berbagi ilmu di Internet.
"Orang akan tahu karya siapa itu sesungguhnya. Jadi tak perlu ada
kekawatiran tulisan kita dicuri orang lain," ujar lelaki berkumis yang
hobi nongkrong di kafe ini.

Terkenal dengan blognya http://rahard.wordpress.com,
Budi yang akrab disapa "BR" ini berkisah bahwa memang sebaiknya sains
dan teknologi dipopulerkan dengan cara yang menyenangkan dan menarik
sejak usia dini. Internet sebagai salah satu media yang paling efektif
bisa dijadikan sarana untuk itu selain buku atau acara televisi.
Mengaku mendapat inspirasi dari gaya presentasinya Bill Gates dan
Steven Jobs, beliau membawakan presentasi sebagai layaknya seorang
entertainer ulung. Materi yang beliau bawakan adalah mengenai ‘internet
dan anak-anak’. Di situ Pak Budi menekankan pentingnya
mempopularisasikan sains pada anak-anak, karena mereka adalah generasi
penerus. Dalam presentasinya, sempat dijabarkan betapa suramnya dunia
tanpa keberadaan engineer, dan dimana engineering menjadi pemberi
pencerahan pada kemanusiaan.

Fiksi Ilmiah


Ilmuwan yang berkutat di laboratorium pun bukan berarti
tak bisa juga berlaga di Internet. Ini dbuktikan dengan Arli Aditya
Parikesit, ilmuwan dan dosen bioinformatikan Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) yang rajin
menulis di Internet. Arli yang tertarik dengan bioteknologi dan
filsafat ini banyak mengangkat tema sains yang dikaitkan dengan fiksi
ilmiah. "Karya fiksi ilmiah seperti ciptaan Jules Verne yang dulu hanya
imajinasi, kini pelan-pelan menjadi kenyataan berkat kemajuan sains dan
teknologi," papar Arli. Walau menulis di Internet memangsangat
menyengangkan, baik Arli, Budi maupun Romi tetap setia menulis di
jurnal ilmiah.

Sementara Muhammad Fahmi Aulia mewakili blogger berbagi
pengalaman ikwal indahnya menulis blog. "Diawali dengan narsis, catatan
harian, kelamaan saya juga menulis artikel yang agak teknis. Akhirnya
saya juga tertarik mengirimkannya ke Netsains," ungkap Fahmi yang
alumni Teknik Fisika ITB ini.***

Dilink dari http://www.netsains.com

Older Posts »